ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Selasa, 04 April 2017

Kunjungi Banyuwangi, Kapolda Jatim Beri Motivasi Para Santri

Kapolda Irjen Machfud Arifin memberikan ceramah
dihadapan santri Darussalam
BANYUWANGI,  – Untuk pertama kalinya, Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Machfud Arifin, mengunjungi Banyuwangi pada Selasa (4/4). Menariknya, tempat yang pertama kali dituju adalah Pesantren Darussalam Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi. Dalam kunjungannya tersebut, Kapolda Machfud memotivasi para santri untuk terus meningkatkan kemampuannya.
‎Mahfud meminta agar santri bisa menjadikan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas sebagai inspirasi. Apalagi Anas merupakan alumni santri. “Banyak santri yang bisa sukses. Salah satunya Pak Anas, bisa menjadi bupati. Jadi santri bisa menjadikan Bupati Anas ini sebagai inspirasi,” kata Mahfud.
Berbagai keterbatasan yang dialami santri, lanjut Machfud, jangan dijadikan sebagai halangan, tapi harus dijadikan sebagai tantangan. Dengan demikian, para santri akan mampu menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan berguna bagi bangsa dan negara. “Dengan belajar yang tekun, santri pun bisa berprestasi. Maka, jangan pernah berhenti untuk belajar,” ungkapnya.
Kiri-Kanan: KH. Masykur Ali, Bupati Abdullah Azwar Anas,
 Kapolda Machfud Arifin, dan KH. Hisyam Syafaat
Selain itu, Mahfud mengingatkan pada para santri agar tetap berhati-hati dan menjaga diri. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini, pengaruh-pengaruh negatif sangat mudah masuk. “Santri yang seharusnya bisa menjadi benteng pengaruh negatif itu,” kata Mahfud.
Kapolda yang baru menjabat sekitar tiga bulan itu juga berharap, agar ada santri-santri dari pondok pesantren ini yang menjadi polisi. “Saya senang kalau ada santri yang jadi polisi. Apalagi santri itu hafal Al Qur’an,” tambahnya.
Bahkan ia berjanji akan memprioritaskan para santri yang hafal Al-Qur’an yang mendaftar menjadi polisi. Ia mengharapkan polisi kelak tidak hanya cakap, tapi juga memiliki akhlakul karimah dan ilmu keagamaan selayaknya santri. “Asal persyaratan dasar sudah tercukupi, santri yang hafal Al-Qur’an akan langsung diterima,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengasuh PP. Darussalam KH. Hisyam Syafaat menyambut dengan senang hati atas kunjungan Kapolda Jatim tersebut. Menurutnya, antara hubungan harmonis antara ulama dengan kepolisian harus dijaga. Karena keduanya, terang Kiai Hisyam, merupakan dua institusi yang saling mendukung di tengah kehidupan masyarakat.
“Jika Polisi menjaga keamanan masyarakat dari berbagai tindak kriminal, maka ulama adalah yang mendampingi masyarakat agar tidak berbuat kriminal,” papar Rois Syuriah PCNU Banyuwangi tersebut. (nuob)

Kiai Ma’ruf Amin: Beda Pendapat, Tidak Perlu Saling Bermusuhan

Jakarta, 
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin (Kiai Ma’ruf) mengatangkan, seharusnya umat Islam itu tidak saling bermusuhan antara satu dan yang lainnya hanya karena perbedaan pendapat. Ia juga meminta kepada umat Islam untuk terus menjaga dan meningkatkan persaudaraan keislaman (ukhuwwah islamiyyah).

“Jangan terkoyak oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak seharusnya menjadi permusuhan,” kata Kiai Ma’ruf kepada NU Online di Lantai 4 Gedung PBNU, Senin (3/4).

Seharusnya, jelas Kiai Ma’ruf, antarsesama umat Islam itu harus saling menasihati dan mengajak ke jalan yang benar. Baginya, kalau seandainya mereka yang dinasihati dan diajak untuk berbuat baik menolak, maka itu jangan dijadikan sebagai bahan untuk menyulut api permusuhan.

“Dengan orang non-Muslim pun kita masing-masing saja. Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku),” jelasnya.

Kiai Ma’ruf menjelaskan, perbedaan-perbedaan tersebut jangan menjadi alat untuk saling bermusuhan. Untuk itu, Kiai alumni Pesantren Tebuireng ini meminta umat Islam Indonesia untuk tidak menanamkan sikap saling benci dan saling memusuhi antarsesama.

“Kita harus membangun (sikap) saling mencintai dan saling menyayangi,” katanya.

Menurutnya, kalau seandainya sikap saling mencintai dan menyayangi sudah terbangun baik di tengah-tengah masyarakat, maka tidak akan ada lagi sikap bermusuhan.

Terkait dengan kelompok yang memaksakan pendapatnya, Kiai Ma’ruf menilai itu tidak jadi masalah selama hanya mengajak dan tidak sampai pada tahap bermusuhan. “Kalau sampai bermusuhan, itu yang tidak baik,” terangnya.

“Masing-masing (harus) menahan diri. Kalau kemudian saling ngotot, jadi (bermusuhan). Tidak perlu ada saling bermusuhan,” pungkasnya.NU Online

Senin, 03 April 2017

Ke Jember, Bupati Anas Jenguk Istri KH Achmad Shiddiq

Bupati Anas bersama istri menjenguk Nyai Nihayah
BANYUWANGI, – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menghadiri haul KH Achmad Shiddiq di Jember, Minggu malam (2/4/2017). Selain menghadiri haul, bupati berusia 43 tahun tersebut juga menyempatkan menjenguk istri KH Achmad Shiddiq, Nyai Nihayah yang sedang sakit.
“Kita doakan bersama beliau senantiasa sehat. Beliau adalah tokoh hebat di balik kiprah KH Achmad Shiddiq,” kata Anas saat dihubungi, Senin.
“Saya lama tidak menghadiri semaan di sini, jadi saya ke sini dan juga menjenguk Nyai Nihayah. Alhamdulillah lancar,” imbuh Anas.
Anas juga bertemu dengan Ketua Forum Silaturahmi Alumni Asshiddiqi Putra (Forsika) Ahmadi. Sejenak Anas yang datang didampingi istrinya, Ipuk Fiestiandani, bernostalgia karena di Ponpes Asshiddiqi itulah dia dulu pernah menuntut ilmu sambil bersekolah di SMA 1 Jember.
KH Achmad Shiddiq sendiri adalah salah seorang ulama kharismatik Nadhlatul Ulama (NU). Dia dikenal sebagai murid langsung pendiri NU, KH Hasyim Asyari, dan sempat menjadi sekretaris pribadi KH Wahid Hasyim, menteri agama pertama Indonesia. KH Achmad Shiddiq menjadi Rais Aam Syuriah PBNU sejak 1984 sampai meninggal pada 1991.
“Beliau juga dikenal sebagai tokoh perumus yang memaparkan posisi Pancasila dalam konteks keindonesiaan, sehingga bisa diterima kalangan muslim, khususnya NU sebagai salah satu garda depan penjaga NKRI,” ujar Anas. NUOB

Minggu, 02 April 2017

Blimbingsari Resmi Menjadi MWC Ke-25 NU Banyuwangi

Guntur pimpin rapat pembentukan kepengurusan MWC NU Blimbingsari
BLIMBINGSARI, – Pemekaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan membuat kecamatan baru berimbas pada NU Banyuwangi. Pengurus Majelis Wakil Cabang  (MWC) NU yang setingkat dengan kecamatan pun ikut dimekarkan. MWC tersebut adalah Blimbingsari yang menjadi MWC ke-25 di Banyuwangi.
“Pemekaran yang dilakukan oleh NU ini, efek dari pemekaran yang dilakukan oleh Pemkab yang membentuk kecamatan baru, yaitu Blimbingsari,” terang Sekretaris PCNU Banyuwangi Guntur Al-Badri saat dihubungi NU.Online.Banyuwangi, Sabtu (1/4).
Kecamatan Blimbingsari sendiri terdiri dari sepuluh desa. Dua desa berasal dari Kecamatan Kabat dan delapan desa lainnya dari Kecamatan Rogojampi. Pembentukan MWC NU Blimbingsari pun mengacu pada pembagian tersebut. “Dari sepuluh desa tersebut, ada sekitar 20 Ranting NU yang masuk pada MWC Blimbingsari,” ungkap Guntur.
Guntur menerangkan, pembentukan MWC baru ini dilakukan berdasarkan hasil musyawarah mufakat yang melibatkan dua kepengurusan MWC asal. Yaitu MWC NU Rogojampi dan Kabat. “Setelah tahap sosialisasi kurang lebih selama tiga bulan, akhirnya didapatkan kesepakatan Rois Syuriahnya berasal dari Kabat dan Tanfidziyahnya berasal dari Rogojampi,” cetusnya.
Atas kesepakatan tersebut, pada Jumat malam (31/3) bertempat di desa Blimbingsari, kepengurusan MWC NU Blimbingsari resmi terbentuk. Rois Syuriah terpilih adalah Kiai Sunandi Zubaidi dari Badean, sedangkan Ketua Tanfidziyah adalah H. Ahmad Taufiq dari Blimbingsari. “Ini merupakan kepengurusan karakteker. Masa berlakunya hanya enam bulan. Salah satu tugas utamanya adalah untuk menyiapkan konferensi MWC Blimbingsari yang sesuai dengan AD/ART,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Taufiq mengaku siap untuk mengabdikan diri untuk menyukseskan pembentukan MWC rintisan tersebut. “Kami siap untuk mengbdi untuk membangun MWC NU Blimbingsari yang masih rintisan ini,” pungkas Taufiq (NUOB)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online