ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Kamis, 02 Maret 2017

Heroisme Santri Lirboyo dalam Perang Mempertahankan Kemerdekaan

Ilustrasi: perjuangan Laskar Santri, Hizboellah.
Resolusi Jihad  yang menekankan wajibnya perang sabil melawan penjajah kolonial sebagai hasil keputusan dalam konferensi para ulama yang tergabung dalam Jam'iyah NU (kala itu masih bernama Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama, HBNO).

Konferensi tersebut diikuti oleh para konsul khususnya dari Jawa dan Madura yang dipimpin oleh Hadhratussyekh Hasyim Asyari pada 21-22 0ktober 1945 bertempat di kantor HBNO Jalan Bubutan Surabaya. 

Spirit pertemuan itu benar-benar menggerakkan dan menyuntikkan semangat semua komponen bangsa ini untuk ikut berjuang memberi andil mempertahankan kemerdekaan bangsa saat Belanda hendak kembali menjajah dengan memboncengi Pasukan Sekutu.

Pertempuran Surabaya yang memuncak pada 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai hari pahlawan merupakan suatu rangkaian peristiwa yang dimulai pada hari kedua tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal AWS. Mallaby saat mendarat untuk pertamakali di Surabaya pada 25 Oktober 1945.   

Sebagai respons dari resolusi jihad di atas, terutama kaum santri dari pelbagai pesantren dari banyak daerah kian tergerak untuk terlibat dalam aksi peperangan membela tanah air. Salah satu pesantren yang tempo itu begitu intens terlibat dan terjun ke medan perang berjuang untuk tanah air menghadapi musuh baik di era penjajahan Belanda maupun Jepang adalah Pesantren Lirboyo Kediri, di samping pesantren lain seperti Tebuireng, Buntet Cirebon, dan lain-lain.  

Dengan mengendarai truk dan hanya bersenjata sederhana, Para Santri Lirboyo di bawah komando langsung KH Mahrus Aly berangkat menuju Surabaya menghadapi pasukan Sekutu yang kian hari makin mengganggu stabilitas keamanan dan kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan. Tercatat nama-nama merereka yang dikirim antara lain: Syafi'i Sulaiman, Agus Jamaludin, Masyhari, Ridlwan, Baidhowi, dan Damiri. 

Mereka kesumanya berasal dari Kediri. Ada lagi Abu Na'im Mukhtar dari Salatiga, Khudhari dari Nganjuk, Sujairi dari Singapura, Zainudin Blitar, Jawahir Jember, Agus Suyuti Rembang, dan masih banyak lagi santri lainnya. Sebelumnya, KH Mahrus Ali yang mengkoordinir pasukan santri dan laskar Hizbullah tersebut juga salah satu Kiai yang ikut menghadiri dan menyepakati tercetusnya Resolusi Jihad di gedung HBNU Bubutan Surabaya.

Pengiriman pertama ini berjumlah 97 santri. Di surabaya mereka kemudian tergabung dengan Laskar Hizbullah. Selama 8 hari di Surabaya semua santri tersebut menjalankan puasa yang telah diijazahkan oleh Kiai Mahrus. Pada momen perang ini rombongan santri Lirboyo tersebut berhasil merebut sembilan pucuk senjata dari pasukn musuh, dan semuanya dapat kembali dalam keadaan selamat.

Keberhasilan ini tentu tak lepas pula dari restu dan doa KH Abdul Karim dan menantunya KH Marzuki Dahlan yang dari pondok senantiasa memberikan dukungan batin dan spiritual melalui aneka mujahadah yang dipinpin langsung beliau berdua untuk mendoakan bukan hanya bagi santri Lirboyo tapi untuk para pejuang bangsa secara umum.

Sebelum pertempuran Surabaya meletus, tepatnya pasca Bung Karno dan Bung Hatta memplokamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 agustus 1945, Perjuangan para santri Lirboyo telah mulai bergelora.

Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, Mayor Mahfud yang merupakan mantan Sudanco PETA (semacam komandan seksi) di daerah Kediri menyampaikan berita gembira kemerdekaan itu kepada KH Mahrus Aly, dilanjutkan dengan pertemuan para santri di serambi Masjid Pondok Pesantren Lirboyo. 

Di sana diumumkan bahwa rakyat Indonesia yang telah sekian abad lamanya dijajah oleh pihak asing, sekarang telah resmi merdeka. Santri Lirboyo dalam kesempatan yang sama itu, sepakat melucuti senjata Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri (kini Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya) yang letaknya sekitar 1,5 Km dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.

Pada malam hari dengan peralatan seadanya berangkatlah 440 santri mengadakan pernyerbuan di bawah komando KH. Mahrus Aly, Mayor Mahfudh dan Abdul Rakhim Pratalikrama. 

Adalah Syafii Sulaiman yang di kemudian hari menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Santri yang masih berusia 15 tahun itu, diutus oleh Kiai Mahrus untuk menyusup ke markas Dai Nippon guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafii segera melapor kepada Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh.

Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu dibawa ke Pondok Lirboyo dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang hingga kini (saat buku disusun, red) masih tersimpan di Markas Brawijaya Kediri.

M. Haromain, Tim Penulis buku Sejarah Pesantren Lirboyo terbitan BPK P2L dan Pustaka 1 Abad Lirboyo, 2010.

PBNU Terapkan Transparansi Pelaporan Keuangan Lembaga dan Banom

Jakarta,
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Laporan Keuangan Lembaga-lembaga PBNU pada Rabu, (1/3). Peserta kegiatan adalah bendahara seluruh lembaga dan banom NU di tingkat pusat.

Auditor internal PBNU, Agus Setiawan menjelaskan, kegiatan digelar sebagai lanjutan dari pertemuan PBNU dengan ketua banom dan lembaga yang digelar 21 Februari lalu, untuk menerapkan transparansi pada pelaporan keuangan dan aset PBNU.

“Bimbingan ini sebagai praktik yang akan diterapkan PBNU. Selama ini PBNU jarang mengetahui harta yang dimilki. Nah kita memulainya dari lembaga. Kalau lembaga-lembaga sudah tercatat harta dan asetnya, akan diketahui aset dan potensi NU secara keseluruhan,” terang Agus.

Melalui pencatatan tersebut, lanjut Agus, nantinya akan diketahui lembaga-lembaga yang surplus atau minus dari segi keuangan. Ia menyebut selama ini karena tidak ada laporan sehingga PBNU tidak mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing lembaga. 

Dengan adanya pelaporan neraca seluruh lembaga, potensi seluruh lembaga akan terdeteksi. Aset bisa berupa kursi, meja, komputer, atau peralatan lembaga. Dengan demikian juga akan terlihat kegiatan dan keaktifan lembaga-lembaga.

“Jika peralatan sedikit, maka mungkin kegiatannya juga sedikit. Jadi dari sini bisa terdeteksi berapa lembaga yang aktif dan seperti apa,” kata Agus.

Menurut Agus, setelah diketahui aset setiap lembaga, dapat disusun neraca konsolidasi. Sehingga kejelasan aset juga dapat memperlancar program kerja PBNU di masa mendatang.

Agus menyesalkan pelaporan aset yang coba ia dorong lima tahun lalu kurang mendapat respons.

“Saya sudah membuatkan SOP Pelaporan Keuangan dan Asset tahun 2010 yang saya minta kepada seluruh wilayah untuk mengirimkan data, sayangnya sampai sekarang belum ada yang konfirmasi,” ujarnya.

Namun demikian, Agus menyebut RS NU Demak telah menerapkan pencatatan yang transparan. (Kendi  Setiawan)



Banyuwangi raih “Harmony Award” dari Kementerian Agama RI

HARMONY Award diberikan kepada Banyuwangi karena dinilai berhasil mewujudkan kerukunan antarumat beragama dan  mampu mengelola perbedaan dengan bijak. 

Penghargaan itu diberikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kepada  Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko di Jakarta Minggu malam (26/2).Penghargaan itu diraih setelah  Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kemenag melakukan survei ke daerah-daerah di Indonesia. Dari survei itu, disusun indeks kerukunan umat beragama hingga terpilihlah Banyuwangi  sebagai penerima penghargaan satu-satunya di Jatim.Yusuf mengatakan, penghargaan tersebut buah dari kerja keras seluruh pihak yang telah  melakukan sinergi dengan melibatkan tokoh lintas agama, aparat pemerintah, tokoh masyarakat, TNI, Polri, dan elemen masyarakat lainnya untuk  duduk bersama mewujudkan Banyuwangi yang damai.


Hal  lain yang bisa merekatkan hubungan dan toleransi antar  umat beragama adalah membangun kedekatan antar pemuda lintas agama, melalui kemah  bersama yang diberi nama Formula Satu (Forum Pemuda Lintas  Agama Bersatu) untuk membangun dialog bersama.
Bupati Abdullah Azwar Anas  mengatakan, kerukunan antarumat  beragama adalah fondasi dan  modal utama untuk membangun  daerah menjadi lebih baik. “Konflikhanya akan menguras energi masyarakat yang tidak akan menghasilkan perubahan positif apa pun,” ujar Anas.
Anas menambahkan, Harmony Award merupakan pelecut untuk terus mempertahankan kerukunan umat beragama yang sudah  terjaga dengan baik. “Tentu award  ini bukan puncak atau akhir perjalanan dalam menjaga kerukunan, tapi merupakan mata rantai dari ikhtiar tak pernah  putus untuk mewujudkan  masyarakat yang senantiasa rukun dalam perbedaan,” terangnya.
Secara berkala Forum Keruku- nan Umat Beragama (FKUB) menggelar pertemuan. Dalam  pertemuan tersebut, para tokoh  dan umat melakukan kegiatan- kegiatan positif secara bersama- sama, seperti terlibat dalam  program pembangunan daerah, ikut menyosialisasikan pendidikan dan kesehatan, dan menyampaikan aspirasi serta kritik yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembangunan.
Selain itu, secara berkala Anas juga menyampaikan kinerja  pembangunan kepada para tokoh agama untuk meminta masukan agar program semakin baik. “Kami juga meminta tolong kepada para pemuka agama untuk menyampaikan kepada umat melalui  ceramah atau khotbah tentang berbagai hal, seperti program beasiswa, arah pembangunan, sampai imbauan untuk mengantisipasi demam berdarah,” tandasnya. (radar)

Rabu, 01 Maret 2017

Rais ‘Aam PBNU Gagas Rembuk Nasional, Ini Alasannya

Jakarta,
Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin menilai perlunya diadakan dialog atau rembuk nasional kebangsaan. Hal tersebut penting dilakukan untuk memantapkan hubungan yang sudah lama terjalin dan mengakar di Indonesia.

“Untuk memantapkan ukhuwah baik wathaniyah, Islamiyah, insaniyah, bahkan ukhuwah diniyah; perlu adanya semacam upaya penegasan komitmen kebangsaan dari komunitas Muslim khususnya, dan ormas Islam,” kata Rais ‘Aam, Selasa (28/2) di Jakarta.

Kiai Ma’ruf menjelaskan rembuk nasional diisi dengan ikrar bersama majelis-majelis agama. Hal ini untuk merawat kemajemukan, kebinekaan, dan toleransi yang bermuara pada pada satu tujuan, yakni merawat keutuhan dan kesatuan bangsa.

Ia mengharapkan dalam rembuk nasional nanti akan dilakukan, setidaknya tiga hal. Pertama adalah mencari solusi kebangsaan dengan menghilangkan sumber konflik.

“Saling pengertian dan memahami dalam rangka mencari solusi kesatuan bangsa. Jadi ini sifatnya solutif,” terangnya.

Rembuk juga bersifat antisipatif, yakni mencageh terjadinya kemungkinan gesekan antarelemen bangsa.

Lalu yang ketiga, lanjut Kiai Ma’ruf, rembuk bersifat rekosiliatif, yakni menyatukan kembali potensi dan elemen bangsa agar tidak terjadi kesalahpahaman. 

“Untuk menghilangkan (potensi perpecahan) yang bisa terjadi dibangunlah saling pengertian antarkomponen bangsa, dan melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Rembuk nasional diharapkan dapat mengembalikan elemen bangsa kepada semangat 45 yang telah menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang utuh dan bersatu,” pungkasnya. NU Online

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online