ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id
Tampilkan postingan dengan label BERITA DAERAH - NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA DAERAH - NASIONAL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2018

Begini kemeriahan saat Gus Ipul dan Wali Band dalam satu panggung


MALANG-Ribuan warga Nahdliyin memadati Stadion Kahuripan di Desa Talok, Turen,Malang .


Mereka datang berbondong-bondong guna mengikuti acara bertajuk 'Doa Untuk


Keselamatan Bangsa' yang digelar PCNU Kabupaten Malang.



Calon gubernur Jawa Timur yang juga mantan Ketua Umum GP Ansor, Saifullah Yusuf atau yang biasa disapa Gus Ipul hadir dalam acara tersebut.
Dalam orasinya, Gus Ipul mengatakan bahwa NU sebagai organisasi Islam terbesar di Tanah Air sudah banyak memberikan banyak kontribusi terhadap negara.
"Semoga NU di usianya yang semakin dewasa bisa semakin banyak melahirkan kader terbaik. Berkiprah di segala lini," ujar Gus Ipul, Minggu (6/5).
Gus Ipul melanjutkan, NU dalam sejarah sudah terbukti menjadi garda terdepan untuk melawan penjajah. "Seperti diketahui, santri menjadi garda terdepan dalam mengusir penjajah. Sedangkan keberadaan santri selama ini memang identik dengan NU," ungkapnya.
http://picasion.com/Acara tersebut berlangsung secara meriah. Apalagi grup Band Wali juga diundang dan sempat menggubah lagu dua lagu miliknya sebagai bentuk dukungan untuk Gus Ipul dan Mbak Puti di Pilgub Jatim. Dua lagu tersebut adalah 'Mari Sholawat' dan 'Dik'.
Nah mau tahu kemeriahan acara tersebut? Silakan menyaksikan:


Sumber ; merdeka .com

Mendag Gandeng NU Kembangkan Ritel Keumatan


Banyuwangi, - Menteri Perdagangan RI Enggartistasto Lukita menyempatkan diri untuk bertemu dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi pada Rabu malam (9/5). Dalam pertemuan yang dihelat di Kantor NU Banyuwangi itu, Mendag bakal menggandeng NU untuk membuka ritel berbasis keumatan.
Dalam kesempatan ini Enggar menyampaikan bahwa Ekonomi kerakayatan merupakan salah satu tugas dari presiden yang mendapat skala prioritas. NU sebagai oraganisasi dengan jumlah anggota terbesar teruatama di Banyuwangi patut menjadi mitra.
“Ada tiga tugas pokok yang dibebankan presiden kepada saya, yakni menjaga stock kebutuhan pokok, menurunkan harga dan mengembangkan sektor ekonomi kerakyatan. Kamis sedang fokus membuka dan menata pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern, selain itu kami juga akan kuatkan ekonomi berbasis keumatan” ungkapnya.
Lebih lanjut Mentri Perdagangan menjelaskan bahwa sistem yang nantinya akan dibangun tidak serta merta meniru apa yang telah dilakukan ritel modern yang sudah ada, akan tetapi lebih fokus pada segmentasi khusus seperti pesantren dan lembaga lainya yang memiliki basis pasar yang jelas, menurutnya NU merupakan salah satu lembaga yang memiliki persyaratan itu.
“Banyuwangi yang 80 persen penduduknya adalah warga Nahdliyin akan sangat membantu program ini, harapan saya nantinya dampak ekonomi tidak hanya dirasakan oleh lembaga akan tetapi mampu malahirkan dampak bagi seluruh ummat” ujarnya.
Hal tersebut diasambut baik oleh KH. Ali Makki Zaini ketua Tanfidziah PCNU Banyuwangi, menurut Gus Makki dengan 25 MWC yang dimiliki NU Banyuwangi bisa mengambil kesempatan tersebut, nantinya ranting-ranting yang akan siap menjadi konsumen.
http://picasion.com/“Ini merupakan kesempatan yang bagus. Apabila 25 MWC masing-masing bisa memiliki satu ritel, sedangkan ranting mensupport dengan membeli kebutuhanya disana, makan NU akan semakin kuat”, ungkap Gus Makki.
Kegiatan dialog tersebut dihadiri oleh Bapati Banyuwangi, Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziah MWC NU, Lembaga, Banom serta segenap pengasuh Pondok Pesantren se-Kabupaten Banyuwangi. (Noe/NUOB)






Minggu, 22 April 2018

Setelah Kiai Marwan Ditetapkan Sebagai Rais PCNU Banyuwangi, Gus Makki terpilih sebagai ketua PCNU Banyuwangi


Proses pemilihan Ketua PCNU Banyuwangi masa khidmat 2018-2023 berlangsung secara aklamasi pada Ahad sore (22/4). KH. Ali Makki Zaini atau akrab disapa Gus Makki terpilih sebagai ketua. Pada tahap pencalonan, ia meraih 368 suara dari 582 hak suara yang digunakan.


Sebagaimana ditentukan dalam tata tertib pemilihan, hanya calon yang mendapatkan 150 suara dukungan. Karena pada tahap pemilihan hanya Gus Makki yang mendapatkan suara minimal pencalonan, maka ia pun ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua.

Sebenarnya, dalam pencalonan ada beberapa nama lain yang masuk bursa calon. Ada nama Sekretaris PCNU Banyuwangi sebelumnya Guntur Al-Badri yang mendapat 92 suara. Kemudian disusul Ketua RMI KH. Ahmad Munib Syafaat yang dapat 56 suara.

Lalu, ada nama Direktur Aswaja NU Center Banyuwangi KH. Abdillah As’ad yang mendapat suara 37. Serta nama Ketua MWC NU Banyuwangi H. Ahmad Mushollin yang didukung oleh 24 suara.

Selain itu, ada nama-nama lain yang terpilih. Namun tak dikenal. Kemungkinan adalah kesalahan tulis. Masing-masing mendapatkan satu suara. Diantaranya adalah Gus Nadhi, Gus Mun’im, Nur Kholiq, Ali Mahdi dan Maisholi.

KH. Zainullah Marwan 
Saat sebelumnya KH. Zainullah Marwan ditetapkan sebagai rais syuriyah PCNU Banyuwangi 2018-2022. Penetapannya tidak melalui voting, tapi melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Untuk menentukan para anggota AHWA tersebut, para rais syuriyah di tingkat Ranting melakukan musyawarah bersama rais di tingkat MWC NU untuk memilih sebanyak lima orang yang dinilai memiliki kapasitas sebagai ulama pilihan untuk menentukan Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi selanjutnya.

Setelah ditabulasi usulan AHWA dari 25 MWC NU se-Banyuwangi terpilih lima orang sebagai anggota AHWA. Pertama, Rais Syuriyah MWC NU Srono KH. Ali Makki Zaini. Kemudian Rais MWC NU Kalipuro KH. Huzaini Hafidz, Rais MWC NU Kabat KH. Muhammad Yamin Masfa, Rais MWC NU kalibaru KH. Habib Abdurrahman.

Namun, dari kelima anggota AHWA tersebut saat diumumkan tak berkenan langsung untuk memutuskan. Mereka ingin bermusyawarah dengan semua rais MWC NU se Banyuwangi. “Kami tak berani memutuskan sendiri. Kami ingin mengajak semua rais untuk ikut bermusyawarah,” ungkap KH. Ali Makki Zaini sebagai juru bicara AHWA di dalam sidang pleno kelima Konfercab NU, Ahad (22/1).

Akhirnya, semua rais terlibat dalam permusyawarahan tersebut. Sebagai ketua sidang adalah KH. Ali Makki Zaini dan KH. Miftahul Huda sebagai sekretaris. Hanya butuh waktu 15 menit untuk menentukan Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi.

“Sidang memutuskan Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi 2018 – 2022 adalah KH. Zainullah Marwan dari Dusun Pacemengan, Desa Buluagung, Kecamatan Silaragung,” Kiai Ali Makki mengumumkan hasil sidang. Lantas disambut gemuruh tepuk tangan para peserta konferensi.

Setelah itu, Kiai Marwan diperkenankan untuk menyampaikan kesediaannya. Kiai Marwan pun menyampaikan kesediaannya. Dengan demikian, secara resmi Wakil Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi 2013 – 2018 tersebut sebagai rais selanjutnya hingga lima tahun ke depan. (gusno)

Minggu, 11 Februari 2018

GP Ansor Jatim Nilai Ada Aktor di Balik Serangan Ke Pemuka Agama


Peristiwa berbau SARA yang bisa memantik perpecahan antarumat beragama terjadi dalam sepekan terakhir di negeri ini. Terbaru, seorang pria dengan senjata tajam menyerang jemaat Katolik yang tengah melaksanakan Misa di Gereja St. Lidwina Sleman, Yogyakarta, pada Minggu pagi, 11 Februari 2018. Sejumlah orang luka-luka.


Sejumlah pihak menyesalkan peristiwa itu. Apalagi, sebelum kejadian di Sleman, beberapa hari sebelumnya terjadi aksi kekerasan pula yang menimpa seorang pengasuh pondok pesantren di Bandung, Jawa Barat, dan tindakan tidak menyenangkan yang menimpa biksu di Tangerang, Banten.
"Ansor Jawa Timur menilai sepertinya ada aktor di balik kejadian itu, tidak mungkin tiba-tiba menyerang ke gereja tanpa indikasi siapa pengirimnya dan lain sebagainya," kata Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Jatim, Abid Umar, di sela acara rapat kerja Ansor Surabaya pada Minggu, 11 Februari 2018.
Mantan Komandan Satuan Koordinator Wilayah Barisan Ansor Serbaguna atau Banser Jatim itu menjelaskan, kecurigaan itu bisa diajukan karena pola penyerangan dari sejumlah kejadian serupa di Sleman mirip-mirip. "Jangan-jangan nanti pelaku yang di Gereja Sleman mengaku gila juga," ujar pria biasa disapa Gus Abid itu.
Bukan tidak mungkin, lanjut dia, aksi dan kejadian serupa akan menular ke Jawa Timur. Karena itu, seluruh anggota Ansor dan Banser Jatim diminta siap mengantisipasi itu, agar perpecahan antarumat beragama bisa dicegah. "Jangan sampai kita semua saling menyalahkan karena aksi-aksi seperti itu," kata Gus Abid.
Sebelumnya, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, berharap Ansor memainkan peran kebangsaannya dalam memelihara kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, sebagai kader yang akrab dengan pengetahuan agama, Ansor harus menyapa semua lapisan masyarakat agar keutuhan Negara Kesatuan RI tetap terjaga.
"Dan saya yakin Ansor bisa menyapa, karena ini Indonesia, Nusantara, dan Ansor bisa berada dimana-mana. Mungkin juga ada Ansor di seluruh Indonesia, ayo kita jaga kota masing-masing, supaya tidak terjadi apa-apa di kota kita masing-masing," kata Risma. (ase)

Selasa, 06 Februari 2018

Kyai dihina, 2000 kader NU Nyatakan Sikap

Banyuwangi,  2000 lebih kader NU yang berasal dari seluruh penjuru Banyuwangi berkumpul di depan kantor PCNU Banyuwangi, selasa (06/02). Massa NU akan melakukan Unjuk rasa dukungan kepada Kyai terkait kasus penghinaan Kyai oleh aktivis LSM M. Yunus yang sudah menjadi tersangka dan mendekam di Tahanan.
Rombongan tersebut mengawali aksinya dengan berjalan dari kantor PCNU Banyuwangi menuju pengadilan Negeri Banyuwangi untuk mengawal persidangan kasus penghinaan kyai NU.
KH. Abdilah As’ad kordinator Komando Masyarakat Pendukung Kyai (KOMPAK) menyampaikan bahwa ini merupakan pernyataan tegas dari Kader Nahdliyin atas tindakan penghinaan yang dilakukan Muhammad Yunus dengan memviralkan di media sosial.
“Ini merupakan pernyataan keras dari kami, setelah upaya islah yang telah dilakukan kemudian dilanggar kembali oleh Yunus, ” ungkap As’ad.
Selanjutnya As’ad menegaskan bahwa Komando Masyarakat Pendukung Kyai sebagai representasi dari warga NU, akan mengawal dan memberikan dukungan kepada Kyai yang menjadi panutan warga Nahdliyin.
“Jasa para Kyai tidak dapat dipertanyakan dalam perjalanan sejarah negeri ini. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk berada di depan dalam menjaga marwah para Kyai, ” tegas As’ad
Sementara itu Ayunk Notonegoro kader Muda NU dalam orasinya menyampaikan bahwa ini bukan masalah sepele. Ayunk mengatakan bahwa ini merupakan indikasi pelemahan di dalam struktur NU dengan melakukan delegetimasi terhadap Kyai.
“Selama ini NU telah menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi perjalanan NKRI. Oleh karena itu untuk melemahkan NKRI maka NU yang harus dipecah belah. Hal ini dimulai dari upaya menghilangkan kepercayaan umat terhadap kyai. Ini harus segera dihentikan, ” Tegas Ayunk, lantang.
Di saat yang sama sedang berjalan persidangan di PN Banyuwangi sidang kasus penghinaan Kyai dengan agenda mendengarkan keterangan KH. Maskur Ali sebagai saksi pelapor. (noe)

Senin, 11 Desember 2017

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad


Denpasar, 
Kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Bali pada tanggal 8-10 Desember 2017 lalu menimbulkan pro kontra bagi masyarakat Bali. Ramai tersebar di media sosial bahwa salah satu elemen yang melakukan penolakan adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. 

Untuk mengklarifikasi keakuratan beberapa media yang memojokan PWNU Bali tersebut,  NU Onlineberhasil  menghubungi  Ketua PWNU Bali, H Abdul Aziz  melalui sambungan telepon, Senin (11/12). 

Ia kemudian menceritakan dari awal bagaimana dirinya sebagai Ketua PWNU mem-back up penuh panitia penyelenggara yang keseluruhan adalah Nahdliyin (warga NU).

Menjelang kedatangan UAS, H Aziz menjelaskan situasi mulai tidak kondusif. Ada beberapa isu bahwa akan ada penghadangan di bandara. Kemudian ia bersama pengurus PWNU yang lain berinisiatif untuk mendampingi panitia menjemput langsung ke bandara.  Bersama UAS dan panitia, Pengurus PWNU terus mendampingi hingga ke Hotel Aston, tempat UAS menginap

“Namun setelah satu jam kami berada di hotel, situasi tidak kondusif, sebab ada konsentrasi massa yang menolak kedatangan UAS,” terang H Aziz.

Karena tidak ingin adanya tindakan kekerasan, sebab menurut  H. Aziz, kelompok masyarakat yang pro kedatangan UAS juga akan bergerak ke hotel Aston, ia kemudian  berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk dapat membantu memediasi dengan pihak yang menolak. Akhirnya mediasi pun terjadi di salah satu ruangan di hotel tersebut.

Dalam mediasi awal mengalami jalan buntu, hingga UAS memutuskan akan meninggalkan Bali. Tentunya keputusan ini akan berdampak pada jamaah pengajian yang sudah ribuan dan berpotensi akan bergejolak. 

H Aziz kemudian meyakinkan kepada UAS bahwa jika dirinya membatalkan pengajian, justru yang terjadi adalah gejolak yang lebih besar. Dengan pertimbangan itu, akhirnya UAS kembali menemui pihak yang menolak dan terjadi saling rangkul menemui titik temu. 

Lalu, ketika ditanya sosok yang mengaku Gus Yadi yang ramai diperbincangkan di medsos, H Aziz sama sekali tidak mengenalnya. 

“Yadi itu siapa, dia bukan pengurus NU maupun banom NU. Dia juga bukan warga Nahdliyin, saat berdebat dengan saya pada saat mediasi, dia menggunakan baju PGN (Patriot Garuda Nusantara,)” tegasnya.

Jadi, menurut H. Aziz kalau ada media yang mengatakan PWNU Bali menolak bahkan memprovokasi untuk melakukan penolakan kedatangan UAS di Bali, merupakan pemberitaan yang sesat.

“Bahkan saya bersama pengurus NU yang lain selalu mendampingi UAS selama di Bali, jadi mohon diluruskan kepada masyarakat,” tutupnya. (NU Online)

Senin, 23 Oktober 2017

GP Ansor Banyuwangi Kompak Dukung Pasangan Gus Ipul dan Anas


BANYUWANGI – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banyuwangi secara kompak menyatakan dukungannya kepada pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Banyuwangi, Sukron Makmun Hidayat, di sela Raker GP Ansor Banyuwangi, di Aula salah satu Hotel di Kecamatan Gambiran. 

Menurut Sukron, alasan Ansor memberi dukungan kepada pasangan tersebut yaitu karena Gus Ipul adalah orang Ansor
"Kita kan Ansor, jadi jelas yang harus kita dukung adalah orang Ansor," ungkapnya. 
Menurut Sukron, selain hal itu kinerja adalah yang menjadi salah satu faktor mengapa Ansor memilih keduanya. 

"Sudah tidak diragukan lagi kalau keduanya memiliki kualitas dan prestasi luar biasa, jadi kita sepakat mendukung pasangan tersebut," ucapnya. (TIMESBANYUWANGI)

Jumat, 16 Juni 2017

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Tegal, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam di Indonesia jangan sampai terpecah belah dan berperang sendiri.

Hal itu ditegaskan Gatot  saat Safari Ramadhan dan buka bersama di Lapangan Markas Brigade Infanteri (Brigif)/4 Dewa Ratna di Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (14/6).
 
Gatot menilai, saat ini ada indikasi benih-benih perpecahan mulai muncul seiring dengan sikap saling menjelek-jelekkan dan menyalahkan satu sama lain.

"Benih-benih ini sudah mulai ada. Mari kita ingatkan teman-teman kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang. Jika kita biarkan ini, negara kita bisa porak poranda," ujar Jenderal bintang empat ini.

Orang nomor satu di jajaran TNI itu menyebutkan, setiap muslim harus rendah hati. Sifat sombong hanya milik Allah. Dalam konteks kekinian, banyak orang yang cenderung mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah benar sementara yang lain salah.

Menurutnya, jika umat Islam tidak berpedoman pada nilai-nilai ini (rendah hati dan tidak menyalahkan orang lain-red), maka perang saudara tidak terelakkan. Perang saudara dan hilangnya sikap cinta tanah air inilah yang menjadi salah satu sebab negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah berkecamuk hingga sekarang.

Meski demikian, Jenderal kelahiran Tegal itu menyebut, Jawa Tengah merupakan daerah yang adem ayem. Di saat beberapa daerah lain sedikit bergejolak, Jawa Tengah telah menunjukkan diri bahwa masyarakatnya hidup guyup dan rukun.

Menurut dia, hal itu tak lepas dari peran ulama yang bersinergi dengan TNI-Polri, serta semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Gatot merencanakan gerakan doa bersama seluruh elemen masyarakat yang akan digelar bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Kegiatan itu dikhususkan pada khataman Al-Qur’an yang digelar di seluruh markas atau kantor satuan jajaran TNI dari Sabang sampai Merauke.

Adapun buka bersama diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Selain itu, juga digelar santunan kepada 1.423 anak yatim. 

Kegiatan tersebut juga diikuti Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Tatang Sulaiman, Kapolda Irjen Condro Kirono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ulama Kharismatik asal Pekalongan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Tohir Alkaf, Bupati Tegal Enthus Susmono dan tokoh-tokoh lainnya.NU Online

Kamis, 15 Juni 2017

Hidupkan Tradisi Lama Melalui Festival Patrol

Bupati Anas sedang mengajari dua anak wisatawan asing
yang ikut menyaksikan pembukaan Festival Patrol bermain musik patrol di atas panggung.
BANYUWANGI – Untuk melestarikan tradisi musik patrol, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Patrol. Pembukaan Festival Patrol itu dilakukan Bupati Abdullah Azwar di halaman Stadion Diponegoro kemarin malam (13/6).
Pembukaan festival patrol berlangsung lancar dan semarak. Walau pun udara malam cukup dingin, warga tetap antusias membanjiri lokasi tersebut. Tampak pula di tengah undangan Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu beserta istri, Ketua DPRD Pakpak Bharat dan beberapa anggotanya, serta para kepala SKPD.
Selain itu juga terlihat beberapa wisatawan asing yang tampak begitu menikmati pertunjukan tersebut bersama anggota keluarganya. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan alat musik terothok Bupati Azwar Anas, Bupati Pakpak Bharat, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, dan para wisatawan asing yang hadir.
Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan penampilan patrol anggota Polres Banyuwangi sebagai pembuka. Berlanjut dengan penampilan grup patrol Kampung Kawitan Temenggungan Banyuwangi yang membawakan jazz patrol dengan irama unik yang tak kalah memikat.
Bupati Anas mengatakan festival patrol sengaja digelar untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang saat ini sudah mulai tergeser. Patrol adalah tradisi unik karena hanya bisa dijumpai saat bulan Ramadhan.
“Patrol adalah tradisi kebersamaan yang harus kita lestarikan. Tradisi ini tidak hanya membangunkan orang untuk makan sahur, tapi juga menjaga keamanan lingkungan. Melalui festival semacam ini, kita coba membangkitkan kembali tradisi lama yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat,” kata Anas.
Festival patrol ini, juga melibatkan para budayawan sebagai kurator. Di samping juga melibatkan seniman-seniman muda yang pandai menge mas patrol menjadi sesuatu yang berbeda. “Contohnya jazz patrol dari Kawitan yang memang digagas anak-anak muda di Kampung Temenggungan. Mereka pun terbiasa melibatkan musisi dari berbagai negara saat menyelenggarakan pertunjukan musik di kampungnya,” ujar Anas.
Digelar selama dua hari, di hari pertama event ini diikuti 25 grup. Mereka perform sambil berjalan keliling kampung. Namun sebelumnya, masing-masing grup tersebut diberi kesempatan unjuk kebolehan bermusik dan bernyanyi di atas panggung.
Festival patrol diikuti 25 grup patrol yang dihimpun dari seluruh kecamatan yang ada di Banyuwangi. Masing-masing grup, terdiri dari 15 orang yang memiliki keahlian berbeda-beda. Ada yang pegang seruling, therotok, gong, tempal, kentongan atau pethit.
Selain alat musik, festival ini juga disertai vokalis yang mengiringi musik patrol dengan sejumlah lagu-lagu bernafaskan islami. Seperti muruk ngaji, tombo ati, dan muji syukur. Selama dua malam, para peserta berkeliling ke kampung-kampung.
Kemarin malam (Selasa, 13/6), grup penampil dari Kecamatan Glagah, Rogojampi, Pesanggaran, Tegaldlimo, Purwoharjo, Cluring, Giri, Singojuruh, Wongsorejo, Blimbingsari, Genteng, Gambiran dan Songgon.
Mereka start dari depan Stadion Diponegoro-finish depan RTH Taman Makam Pahlawan dengan melewati sejumlah kampung di jalan Jagung Suprapto, jalan Kapuas, Jalan Musi, jalan Bengawan, Jalan Serayu, jalan Datuk Malik lbrahim, Jalan dr Soetomo, Jalan Pierre Tendean, Jalan Haryono, Jalan Ngurah Rai, jalan A.Yani dan berakhir di depan kantor Pemkab Banyuwangi.
Sedangkan malam kedua tadi malam (Rabu, 14/6), giliran 12 kontingen dari Kecamatan Tegaisari, Srono, Kalibaru, Sempu, Kalipuro, Banyuwangi, Bangorejo, Muncar, Slliragung, Kabat, Licin dan Glenmore.
Mereka akan mengambil start dari tempat yang sama di depan Stadion Diponegoro-finish Pendopo Shaba Swagata Blambangan melewati jalan kampung. Rutenya, jalan Kapuas, jalan Musi, jalan Bengawan, jalan Kali Lo, jalan MH Thamrin, jalan Jembatan KH Abu Amar, jalan Bromo, jalan Nias, jalan Sidopekso, selanjutnya menuju Sritanjung, depan Pendopo kabupaten.
Kreteria penilaian yang ditentukan panitia Festival patroi yaitu, saat start sampai finis sajian teknik penabuh patroi (kreasi kelompok instrumen), teknik atraksi penampilan dan harmonisasi antara irama musik, atraksi dan gending yang dibawakan. Dalam perjalanan yang dinilai yaitu kekompakan, semangat dan ketertiban. (radar)

Selasa, 13 Juni 2017

PBNU Minta Mendikbud Kaji Ulang Kebijakan "full day school"

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj
JAKARTA, - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tidak terburu-buru dalam menelurkan kebijakan.

Kebijakan yang tanpa kajian mendalam, kata dia, bisa menimbulkan polemik di masyarakat.

Said Aqil menyatakan hal itu merespons pemikiran Muhadjir yang akan memperpanjang jam siswa di sekolah. Muhadjir menyebutnya dengan kokulikuler.

PBNU, kata Said Aqil, tidak setuju dengan wacana perpanjangan jam belajar siswa di sekolah selama tidak ada pengkajian secara menyeluruh dan matang.
Sementara Muhadjir mengumumkan wacana tersebut kurang dari dua pekan sejak dia dilantik .

" kebijakan itu perlu ditinjau ulang dengan sikap yang arif agar tidak merugikan masyarakat," ujar Said Aqil di Jakarta, Sabtu (13/8/2016).

Dia menilai wacana, apalagi jika sampai menjadi kebijakan, merugikan madrasah diniyah di pelosok perdesaan yang jadwal kegiatan belajar dan mengajarnya pada siang hingga sore hari.

Menurut Said Aqil , pondok pesantren sudah lama menerapkan konsep pendidikan ala wacana perpanjangan jam belajar siswa di sekolah itu. Pondok pesantren memberi asrama bagi para siswanya alias para santri.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, wacana sekolah sehari penuh atau yang disebutnya sebagai kokurikuler tetap berjalan meskipun mendapat penolakan.
Gagasan kokurikuler itu sebelumnya dikenal publik dengan sebutan "full day school".

"Full day (sehari penuh) jalan. Teknisnya belum, tetapi insya Allah jalan," kata Mendikbud seusai berkunjung ke Salah satu  SMK di Imogiri Bantul, DIY, Rabu (10/8/2016).

"Itu berkaitan dengan pendidikan karakter tingkat SD dan SMP," kata dia.
Menurut dia, penerapan sekolah sehari penuh akan terus dikaji dan disiapkan teknis pelaksanaannya. Penerapan itu mempertimbangkan pendidikan karakter meskipun di lingkungan keluarga juga ada pendidikan karakter.


Sumber :KOMPAS

Minggu, 11 Juni 2017

MUI Minta Mendikbud Kaji Ulang Kebijakan Sekolah Lima Hari

JAKARTA, - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy mengkaji ulang kebijakan sekolah lima hari. Rencananya, kebijakan sekolah lima hari akan diterapkan mulai tahun ajaran 2017.

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi dalam keterangan pers, Minggu (11/6/2017) menyampaikan, kebijakan tersebut dapat berpengaruh pada praktik penyelenggaraan pendidikan keagamaan yang dikelola swadaya masyarakat, misalnya Madrasah Diniyah dan pesantren.

Zainut mengatakan, biasanya kegiatan keagamaan tersebut dimulai setelah pelajar pulang dari sekolah umum, yaitu SD, SMP, dan SMA.

Menurut Zainut, dalam kebijakan sekolah lima hari sepekan, maka berlaku pendidikan selama delapan jam per hari. Hal ini, kata dia, akan membuat model pendidikan Madrasah gulung tikar.

Padahal, pendidikan model Madrasah Diniyah dan pesantren selama ini telah berkontribusi besar bagi penguatan nilai-nilai keagamaan, pembentukan karakter, dan penanaman nilai-nilai akhlak mulia bagi anak didik.

"Untuk hal tersebut, MUI meminta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk mengkaji ulang kebijakan tersebut," ucap Zainut.
Zainut khawatir apabila kebijakan sekolah lima hari diterapkan, maka akan banyak Madrasah Diniyah yang tutup. Demikian juga dengan pengajar di Madrasah Diniyah menjadi kehilangan pekerjaan.

"Hal ini sangat menyedihkan dan akan menjadi sebuah catatan kelam bagi dunia pendidikan Islam di negeri yang berdasarkan Pancasila," imbuh Zainut.

Diterapkan bertahap
Di sisi lain, Zainut mempertanyakan kesiapan sarana dan prasarana di sekolah, apakah layak untuk diterapkan pendidikan delapan jam sehari. Sebab kalau tidak, imbuhnya, alih-alih tercipa suasana belajar yang kondusif, nyaman, dan menyenangkan. Justru anak didik akan merasa jemu dan stress.

Atas dasar itu, Zainut meminta kebijakan ini diterapkan secara bertahap, selektif, dan dengan persyaratan ketat.

"Misalnya hanya diberlakukan bagi sekolah yang sudah memiliki sarana pendukung yang memadai. Sedangkan bagi sekolah yang belum memiliki sarana pendukung tidak atau belum diwajibkan," kata dia.

Selain itu, Zainut juga mengusulkan, kebijakan tersebut tidak diberlakukan untuk semua daerah dengan tujuan untuk menghormati nilai-nilai kearifan lokal.
"Jadi daerah diberikan opsi untuk mengikuti program pendidikan dari pemerintah, juga diberikan hak untuk menyelenggarakan pendidikan sebagaimana yang selama ini sudah berjalan di masyarakat," pungkas Zainut.KOMPAS.

Jumat, 09 Juni 2017

Bersama KHR. Cholil As’ad, Bupati Anas Doakan Bangsa dan Banyuwangi

Banyuwangi,  – Bulan Ramadlan yang penuh berkah dimanfaatkan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk mendoakan bangsa dan Banyuwangi. Ia bersama dengan Pengasuh PP. Walisongo, Mimbaan Situbondo KHR. Cholil As’ad berdoa bersama di kawasan wisata Bangsring Underwater (Bunder) Wongsorejo, Banyuwangi, Selasa (6/6).
“Bulan Ramadlan ini, momentum yang tepat untuk memanjatkan doa untuk kebaikan bangsa dan Kabupaten Banyuwangi,” ungkap Anas kepada banyuwangi.nu.or.id

Dalam rangkaian doa bersama tersebut, KHR. Cholil As’ad memimpin pembacaan Al Quran, Sholawat Nariyah, tahlil dan lain sebagainya. “Semoga dengan rangkaian doa ini, bisa mendatangkan keberkahan bagi Banyuwangi, khususnya, dan Indonesia, pada umumnya,” ungkap salah seorang pengurus PBNU tersebut.

Menariknya, acara doa bersama yang diawali ngabuburit sembari sholawatan dengan diiringi hadrah kolaborasi itu, mengambil tempat yang tak umum, yaitu tempat wisata. Tidak hanya melantunkan puji-pujian terhadap nabi Muhammad, mereka juga mendengungkan kebhinekaan. Mereka menyanyikan PBNU, yang merupakan singkatan dari Pancasila, Bhineka tunggal ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Ini cara baru bahwa berdoa dan sholawatan tidak harus di masjid atau tempat-tempat tertentu saja, tapi juga bisa dilakukan dengan santai di tepi pantai,” papar bupati Anas.
Kehadiran turis mancanegara yang ikut mengabadikan kegiatan tersebut, lanjut Anas, menjadi inspirasi tersendiri. Perpaduan musik etnik di tepi pantai dengan dihiasi balon-balon menjadi daya tarik tersendiri. “Hal ini menarik bagi saya. Sholawat yang dikemas secara sederhana pun juga bisa menjadi daya tarik wisatawan,” terangnya.
Sementara itu, kegiatan Banyuwangi Mengaji sendiri, juga dirangkai dengan khotmil Quran yang akan dihelat selama empat hari (7 – 10/6), di Pesantren Darul Taufiq, Tegalpare, Muncar. “Acara ini akan diikuti pelajar, santri dan masyarakat,” ungkap Kabag Kesra Pemkab Banyuwangi Lukman.NUOB

Jumat, 19 Mei 2017

Banyuwangi Jadi Contoh Bagus Jaga Keberagaman

Banyuwangi  - Keberhasilan Kabupaten Banyuwangi dalam menjaga kerukunan antar umat beragama diapresiasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor. Masyarakat Banyuwangi yang plural bisa hidup berdampingan dengan baik.

"Banyuwangi ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana menunjukkan agama Islam yang rahmatan lil alamin. Meski masyarakatnya memiliki keyakinan yang beragam, tetap damai dan bersatu padu," terang Sekretaris Jendral PP GP Ansor Adung Abdurrahman di sela-sela rangkaian pelantikan PC GP Ansor Banyuwangi, Kamis (18/5/2017).

"Visi pemimpin Banyuwangi, saya kira, menjadi faktor menarik untuk menjadi contoh pada dunia. Meski memiliki visi keislaman yang kuat, akan tetapi tetap memberi ruang yang layak bagi kebudayaan dan keberagaman," imbuh Adung.

Dia mengatakan, saat ini konflik sosial mulai kerap muncul karena perbedaan yang dibesar-besarkan dan dipolitisasi. GP Ansor khawatir tenun kebangsaan bisa terkoyak jika situasi dewasa ini dibiarkan.

"Untuk itu, Pimpinan Pusat GP Ansor mengampanyekan kepada dunia tentang Islamic Humanitarian, Islam Kemanusiaan. Yaitu, Islam sebagaimana yang diterapkan di Indonesia, damai dan toleran di tengah kebhinekaan," tutur Adung.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kerukunan antar umat beragama dan golongan adalah modal penting bagi pembangunan daerah. Pertumbuhan Banyuwangi saat ini, bukan karena pemimpinnya, tapi karena keguyupan masyarakatnya untuk membangun.

"Maka, penting kerukunan tersebut dijaga, bagaimana bisa membangun daerah kalau satu sama lain tidak rukun," terang Bupati Anas.

Sebagai ikhtiar dalam menjaga kerukunan tersebut, Banyuwangi meningkatkan intensitas dialog dan silaturahmi antarumat beragama. Banyuwangi juga telah mendapat Harmony Award dari Kementerian Agama atas keberhasilannya menjaga kerukunan dalam keberagaman.

"Dalam beberapa bulan sekali, kita bertemu, berdialog bersama. Kadang di masjid, kadang di gereja, di pura dan lain sebagainya. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kerukunan tersebut," papar Anas.

Selain itu, dalam acara-acara tertentu, antar umat beragama dan ormas saling mengundanghadirkan untuk meningkatkan silaturrahmi.

"Seperti halnya saat pelantikan GP Ansor ini, Pemuda Katolik, Pemuda Persada Hindu Dharma, Pemuda Muhammadiyah dan beberapa ormas keagamaan yang tergabung dalam Forum Pemuda Lintas Agama Banyuwangi ikut hadir," jelas Anas. (beritajatim.com)

Senin, 15 Mei 2017

Demi Perdamaian Dunia, GP Ansor akan Gelar Halaqah Internasional

Jombang, 
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor akan menggelar halaqah internasional yang direncanakan dipusatkan di GOR Hasbullah Said Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sejak Ahad hingga Senin (21-22/05/2017) mendatang. Halaqah ini mengambil tema Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) dan PC GP Ansor Kabupaten Jombang ini akan membahas berbagai persoalan kebangsaan di beberapa negara. Terutama isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim di berbagai negara serta keberadaan negara-bangsa modern dan keabsahannya sebagai sistem politik yang mengikat kehidupan umat Islam.

"Jadi, dari berbagai persoalan wawasan keagamaan dunia Islam yang terjadi di berbagai negara itu, kami ingin mengetahui lebih detail melalui halaqah ini. Setelah mengetahui kondisinya, forum nanti kami harapkan bisa merumuskan peta jalan menuju rekontekstualisasi Islam demi perdamaian dan harmoni peradaban," ujar Sholahul Am Notobuwono (Gus Aam), Ketua Panitia Halaqah Internasional GP Ansor, Senin (15/5).

Gus Aam menjelaskan, ada beberapa persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi Muslim dan non-Muslim. Di samping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.

Untuk membahasnya, panitia sudah mengundang perwakilan dari berbagai negara untuk menjadi pembicara dalam halaqah tersebut. Diantaranya Syeikh Kabir Helminski (Kentucky USA), Shuhaib Benseikh (Marseille, Prancis), Ayeikh Ahmed (Abbadi, Maroko), C Holland Taylor (Bayt Ar Rahmah, USA), Magnus Ranstorp (Stockholm, Swedia), Syeikh Mohammed Abu El Fadl (Kairo, Mesir), Ash Shisty (India), Syeikh Amru Wardani (Kairo, Mesir), Mouhanad Khorchide (University Of Munster, Jerman), dan perwakilan dari Malaysia.

"Untuk undangan yang luar negeri, beberapa sudah konfirmasi kehadiran. Terutama Mesir sudah pasti datang. Komunikasi terus kita lakukan, sudah hampir semuanya memberi kepastian hadir. Kalau pembicara dari dalam negeri ada perwakilan dari Muhammadiyah, pemerintahan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara)," jelas Gus Aam.

Adapun peserta kegiatan ini diperkirakan sekitar 400 orang. Terdiri dari pengurus Ansor dari seluruh Indonesia, kiai-kiai pesantren, akademisi, Forum Musyawarah Ponpes, RMI (Rabitah Ma'had Islamiyah), dan utusan Banom (Badan Otonom) NU. 

"Forum ini dialognya aktif. Jadi, nanti dari beberapa narasumber bisa saling menanggapi secara langsung. Begitupun peserta," bebernya.

Menurut Gus Aam, berbagai pembahasan yang dikaji dalam halaqah internasional itu akan direkomendasikan dibedah kembali di negaranya masing-masing. "Karena bisa saja persoalan yang sudah dibahas disini nantinya akan relevan dengan yang terjadi di negara lain. Atau bisa saja hasil dari halaqah ini menjadi kesepakatan bersama lintas negara untuk perdamaian dunia dan harmoni peradaban," ulasnya. (NU Online)

Jumat, 05 Mei 2017

Ada Kado Istimewa dalam Harlah Fatayat NU di Banyuwangi

BANYUWANGI – Perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-67 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kalibaru, Banyuwangi berlangsung meriah. Acara yang digeber di SMA NU, Kalibaru, tersebut juga diwarnai peluncuran kado istimewa untuk kader Fatayat setempat.
Kado yang dimaksud adalah peluncuran website resmi Fatayat NU setempat. Yakni www.fatayatnu.id. Untuk sekelas PAC, hal tersebut terbilang sangat keren.
Dalam sambutannya, Ketua PAC Fatayat NU Kalibaru, Atiqoh S Pd I, mengajak seluruh kader untuk mulai menata kemandirian. Dan sebagai langkah awal, mereka didorong untuk mandiri secara organisasi. Baru selanjutnya diteruskan pada tiap-tiap pribadi.
Atas tujuan tersebut, jangan heran dalam Harlah Fatayat, PAC setempat mengadakan pelatihan menulis bagi kader.
"Nantinya para peserta diharapkan mampu melahirkan karya-karya dalam bentuk tulisan, syukur-syukur bisa dirasakan langsung manfaatnya secara luas. Tulisan akan dishare melalui domain website Fatayat yang telah dimiliki," katanya, Jumat (5/5/2017).
Ketua PAC Fatayat NU Kalibaru, Atiqoh S Pd I,
saat memberi sambutan dalam Harlah Fatayat NU ke 67
Tak hanya kader Fatayat, pelatihan kali ini juga diikuti kader Badan Otonom (Banom) NU lainya. Seperti IPNU, IPPNU, serta lainya se Daerah Pemilihan (Dapil) 5 Banyuwangi. Meliputi Kecamatan Sempu, Genteng, Glenmore dan Kalibaru.
Namun, demi optimalnya penerimaan materi, jumlah peserta dibatasi agar suasana tenang dan peserta lebih fokus. Pemateri juga bisa lebih intens memberikan ilmu kepada peserta
“Sesuai dengan tujuan pelatihan, nantinya setiap kegiatan khususnya di Kalibaru dapat ter publish melalui domain website yang baru saja diluncurkan dengan tema Fatayat Menulis,” jelas Ketua PAC Fatayat NU Kalibaru yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyuwangi ini.
Sementara itu, dari pantauan media dilokasi, seluruh peserta pelatihan terlihat cukup serius mendengarkan materi. Dan sekali ada yang kurang jelas, mereka langsung bertanya.
Rencananya, guna makin mematangkan, pelatihan serupa akan kembali digelar dengan waktu yang disesuaikan. Tujuanya, agar dengan bertambahnya usia Fatayat NU, kader yang dimiliki juga semakin berkualitas. (timesbanyuwangi)

Senin, 10 April 2017

Ratusan Ribu Warga Nahdliyin Hadiri Istighosah Kubro di Sidoarjo

Sidoarjo - Ratusan ribu warga Nahdliyin memadati Stadio Gelora Delta Sidoarjo untuk mengkuti Istighosah Kubro dengan tema 'Mengetuk Pintu Langit Menggapai Nurullah', Minggu (9/4/2017). Ratusan jamaah ini datang dari berbagi daerah di Jatim.

Istighosah Kubro ini juga dalam rangka peringatan Hari Lahir ke 94 NU, serta mendoakan bangsa ini agar terhindar dari permasalahan.

Selain memadati dalam stadion, ribuan warga NU ini juga memenuhi area luar stadion. Meski duduk dengan alas tikar dan di bawah terik matahari, mereka tetap khusuk berdoa. 

"Istighosah ini sesuai instruksi kiai sepuh dan kami kiai di struktur unsur syuriah dan tanfidzyah PWNU dan cabang-cabang menjalankannya," kata Ketua PWNU Jatim KH M Hasan Mutawakil Allallah.

Dalam istighosah kubro ini, ulama kiai NU menyampaikan maklumat untuk mengarahkan umat Islam dan seluruh elemen bangsa dalam rangka menguatkan kembali bangunan keagamaan dan kebangsaan Tanah Air.

Hadir dalam istighosah kubro di Sidoarjo sembilan Kyai diantaranya, KH Anwar Mansur, KH Miftachul Akhyar, KH Tamim Romli, KH Nawawi Abdil Jalil, KH Khoil As'ad, KH Aza'im, KH Anwar Iskandar, KH Zainuddin Jazuli, KH Nurul Huda Jazuli.Tohak hanya para kiai, Istighosah Kubro juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Mahfud Arifin, Mensos Khofifah Indar Parawansa, dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakil Alallah menyatakan istighosah hari ini warga nahdliyin berdoa bersama-sama untuk keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia, dan kedaulatan bangsa ini dihadapan bangsa-bangsa yang lain, dan juga mudah-mudahan doa kyai tadi semoga bencana sosial yang menimpa bangsa ini ada pintu keluar dan ada jalan keluarnya, dan kami mengharapkan para pemimpin bangsa ini juga mengambil kebijakan kebijaksanaan yang memihak pada rakyat.

"Semoga doa kyai dalam istighosah kubro yang dilaksanakan di gor Sidoarjo ini semoga bangsa kita ini diberikan keselamatan,kesejahteraan dan kemakmuran, selain itu juga mudah-mudahan doa kyai semoga bencana sosial yang menimpa bangsa ini ada pintu keluar dan jalan keluarnya," kata Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakil Alallah.

Sementara itu Wakil Ketua Rois Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandar menambahkan, warga NU meneguhkan komitmennya terhadap keselamatan negara kesatuan Replublik Indonesia.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online