Hamasah di Jalan Da'wah
Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.
Jama'ah Penuh Berkah
Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.
Bekerja Untuk Indonesia
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)
Inilah Jalan Kami
Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (12:108)
Biduk Kebersamaan
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Sabtu, 10 Juni 2017
Renungan Ramadhan Kiai Sahal Mahfudz
Sabtu, 20 Mei 2017
Berjasa Kembangkan Ekonomi Syariah, Kiai Ma’ruf Sandang Gelar Profesor
Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek RI) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin akan diangkat dan dikukuhkan sebagai Profesor dan Guru Besar dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syaria’ah di UIN Malang.
Surat pengangkatan menteri tersebut didasarkan kepada surat usul rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Nomor Un.03/0T.01.6/5731/2016 tanggal 18 November 2016.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang H Mudjia Rahardjo menjelaskan, usulan penganugerahan gelar profesor kepada KH Ma’ruf Amin semula berasal dari para ulama, tokoh masyarakat, dan juga dari Kemenristek. Karena pengangkatan seseorang agar mendapatkan gelar profesor itu harus dari sebuah institusi yang memiliki akreditasi A, maka ia menawarkan usulan tersebut kepada para senat UIN Malang.
“Pengusul itu harus dari institusi yang terakreditasi A. Terus saya rapatkan senat dan ternyata senat menyetujui. Karena menyetujui saya mengusulkan melalui Kementerian Agama karena bidangnya ekonomi Islam,” kata H Mudjia saat dihubungi NU Online via telepon, Sabtu (20/5).
Peraih gelar doktor bidang Ilmu Sosial dari Universitas Airlangga itu mengatakan, proses pengukuhannya akan dilaksanakan pada Rabu, 24 Mei 2017, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia menambahkan, rencananya acara tersebut akan dihadiri oleh Presiden, beberapa menteri, dan pejabat negara lainnya. Sampai saat ini, persiapan acara sudah mencapai delapan puluh persen.
“Sampai hari ini beritanya begitu (akan dihadiri Presiden Jokowi), pihak panitia dan beberapa sudah menghubungi istana,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, pemberian gelar tertinggi dalam akademik kepada KH Ma’ruf Amin didasarkan kepada kiprah dan peran Rais ‘Aam PBNU tersebut dalam hal keulamaan dan pengembangannya dalam bidang ekonomi syariah. Menurut dia, gelar profesor untuk KH Ma’ruf Amin adalah bentuk apresiasi atas perannya selama ini.
“Karena perannya, baik perannya sebagai ulama dan peran akademiknya dalam bidang ekonomi itu menonjol sekali. Terutama setelah adanya demo besar-besaran,” urainya.
H Mudjia menilai, KH Ma’ruf Amin adalah sosok ulama yang lengkap, yaitu memiliki garis nasab ulama dan juga memiliki keilmuan agama yang sangat mumpuni, memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan ekonomi syariah, dan bisa diterima semua golongan.
“Beliau sosok ulama yang bisa diterima oleh berbagai kelompok aliran di Indonesia. NU, Muhammadiyah, dan lainnya,” tutup dia.NU Online
Sabtu, 29 April 2017
Rais 'Aam Jelaskan Karakteristik Gerakan dan Ukhuwah NU
Kamis, 06 April 2017
H Sukron Makmun Hidayat S Hum ;Jangan Sampai Nama Ansor hancur di mata masyarakat karna ulah anggota
Selasa, 04 April 2017
Kiai Ma’ruf Amin: Beda Pendapat, Tidak Perlu Saling Bermusuhan
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin (Kiai Ma’ruf) mengatangkan, seharusnya umat Islam itu tidak saling bermusuhan antara satu dan yang lainnya hanya karena perbedaan pendapat. Ia juga meminta kepada umat Islam untuk terus menjaga dan meningkatkan persaudaraan keislaman (ukhuwwah islamiyyah).
“Jangan terkoyak oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak seharusnya menjadi permusuhan,” kata Kiai Ma’ruf kepada NU Online di Lantai 4 Gedung PBNU, Senin (3/4).
Seharusnya, jelas Kiai Ma’ruf, antarsesama umat Islam itu harus saling menasihati dan mengajak ke jalan yang benar. Baginya, kalau seandainya mereka yang dinasihati dan diajak untuk berbuat baik menolak, maka itu jangan dijadikan sebagai bahan untuk menyulut api permusuhan.
“Dengan orang non-Muslim pun kita masing-masing saja. Lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku),” jelasnya.
Kiai Ma’ruf menjelaskan, perbedaan-perbedaan tersebut jangan menjadi alat untuk saling bermusuhan. Untuk itu, Kiai alumni Pesantren Tebuireng ini meminta umat Islam Indonesia untuk tidak menanamkan sikap saling benci dan saling memusuhi antarsesama.
“Kita harus membangun (sikap) saling mencintai dan saling menyayangi,” katanya.
Menurutnya, kalau seandainya sikap saling mencintai dan menyayangi sudah terbangun baik di tengah-tengah masyarakat, maka tidak akan ada lagi sikap bermusuhan.
Terkait dengan kelompok yang memaksakan pendapatnya, Kiai Ma’ruf menilai itu tidak jadi masalah selama hanya mengajak dan tidak sampai pada tahap bermusuhan. “Kalau sampai bermusuhan, itu yang tidak baik,” terangnya.
“Masing-masing (harus) menahan diri. Kalau kemudian saling ngotot, jadi (bermusuhan). Tidak perlu ada saling bermusuhan,” pungkasnya.NU Online
Senin, 20 Maret 2017
Naik ‘Kelas’ Bersama Zakir Naik
Oleh: M. Anwar Djaelani
Zakir Naik adalah sebuah prestasi dakwah. Lewat dakwahnya, sangat banyak orang yang lalu bisa naik ‘kelas’. Sebagian –bisa jutaan jumlahnya-, yang sebelumnya kafir lalu naik ‘kelas’ menjadi beriman kepada Allah. Sebagian yang lain, kemudian naik ‘kelas’ menjadi lebih kuat keimanannya. Maka, menarik jika kita mencari tahu: Siapa Zakir Naik itu?
Sangat Fenomenal
Dr. Zakir Abdul Karim Naik adalah seorang cendekiawan Muslim dan muballigh asal India. Dia juga penulis buku-buku keislaman dan perbandingan agama.
“Zakir Naik, Salah Satu Orang Berpengaruh di India,” tulis situs di atas. Dia lahir pada 18/10/1965 di Mumbai (Bombay, nama lamanya), India. Di antara riwayat pendidikannya, dia memelajari kesehatan di Topiwala National Medical College dan Nair Hospital di Mumbai. Dia menerima gelar MBBS (singkatan dari gelar akademik untuk dokter) dari University of Mumbai.
Pada 1991 dia berhenti bekerja sebagai dokter dan berkonsentrasi di dunia dakwah. Sejak itu, dia menjadi da’i yang banyak mengangkat tema perbandingan agama.
Di India, Zakir Naik adalah pendiri sekaligus Presiden Islamic Research Foundation (IRF), sebuah organisasi nirlaba yang memiliki dan menyiarkan jaringan saluran TV gratis Peace TV dari Mumbai. Dia telah berceramah dan menulis sejumlah buku tentang Islam dan perbandingan agama. Dia kerap sampaikan hal-hal yang ditujukan untuk menghapus keraguan tentang Islam. Artikel-artikelnya sering diterbitkan di majalah India seperti di Islamic Voice. Atas karya-karyanya, Zakir Naik memeroleh beberapa penghargaan, baik di India maupun di dunia internasional.
Salah satu media India, Indian Express, pada 22/02/2009 mendudukkan Zakir Naik di peringkat 82 dari "100 Orang India Terkuat 2009". Sementara, penduduk India saat itu satu miliar. Di sisi lain, dalam daftar khusus "10 Guru Spiritual Terbaik India", Zakir Naik berada di peringkat tiga dan menjadi satu-satunya Muslim di daftar tersebut.
Selain itu, pada 01/03/2015, Zakir Naik mendapat penghargaan tertinggi dari Pemerintah Saudi Arabia, King Faisal International Prize (KFIP). KFIP merupakan penghargaan terhadap karya-karya luar biasa dari individu dan lembaga dalam lima katagori yakni Dakwah Islam, Studi Islam, Bahasa dan Sastra Arab, Kedokteran, serta Ilmu Pengetahuan. Penghargaan itu disampaikan secara langsung oleh Raja Salman bin Abdul Aziz. Kala itu Zakir Naik menerima sertifikat, medali emas 24 karat seberat 200 gram dan cek 200.000 ribu dollar Amerika. Dalam acara penganugerahan penghargaan itu, Zakir Naik menyatakan bahwa dirinya akan menyumbangkan semua hadiah uang untuk Peace TV.
Dakwah Zakir Naik membuat gentar Barat. Ada “7Alasan Mengapa Barat Takut pada Dr Zakir Naik” (www.tarbiyah.net 07/02/2016). Memang, meski banyak warga Eropa dan Amerika kagum terhadap Zakir Naik dan berusaha menghadiri forum-forumnya, ternyata tidak demikian dengan pemerintahnya. Sejumlah negara seperti Inggris dan Kanada mencekal Zakir Naik. Amerika Serikat bahkan terang-terangan mengecam Zakir Naik.
Dari situs di atas, berikut ini empat dari tujuh alasan yang dimaksud. Pertama, “Banyak Orang Masuk Islam di Forum Zakir Naik”. Di saat gereja semakin sepi dan orang-orang Barat semakin ragu-ragu dengan teologi mereka sendiri, tiba-tiba Zakir Naik datang. Ceramah-ceramahnya membabat habis kesalahan dalam teologi gereja. Dengan penjelasan yang argumentatif, Zakir Naik mematahkan trinitas, membongkar bahwa Yesus bukan Tuhan, dan sebagainya. Tidak sedikit orang yang masuk Islam setelah mendapatkan penjelasan dari Zakir Naik.
Kedua, “Menguatnya Dakwah Islam di Barat”. Melalui ceramah-ceramahnya di sejumlah negara Eropa, Zakir Naik seperti langsung menusuk ke jantung pertahanan Barat. Hampir setiap ceramahnya dihadiri ribuan orang sehingga jumlah audien Zakir Naik telah mencapai jutaan orang yang sebagiannya hidup di Barat. Mereka yang tadinya hanya mengetahui Islam dari media, kini mulai mengetahui prinsip-prinsip Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meluasnya dakwah Islam ini, meskipun tidak semuanya masuk Islam, cukup mengkhawatirkan Barat. Sebab menurut “The Clash of Civilization”-nya Samuel Huntington, Barat tengah menempatkan Islam sebagai musuh. Jika ternyata warganya sendiri memahami Islam dengan baik, hal itu sangat membahayakan bagi hegemoni politik mereka.
Ketiga, “Zakir Naik juga Ditakuti Gereja”. Cukup beralasan jika pemerintah Barat takut pada Zakir Naik karena gereja-gereja pun tidak sanggup membendung gelombang dakwah Islam yang dibawakan Zakir Naik.
Keempat, “Pengaruh Zakir Naik Semakin Meluas”. Bersamaan dengan derasnya dakwah Islam, pengaruh Zakir Naik semakin meluas. Di India, seperti telah disebut di atas, Zakir Naik masuk “100 Tokoh Paling Berpengaruh” serta dinobatkan sebagai “Tiga Besar Guru Spiritual di India” yang mayoritas bukan Muslim.
Sekali lagi, mengapa Zakir Naik ditakuti Barat? Zakir Naik ditakuti sedemikian rupa dia dicekal tak boleh masuk ke Amerika dan Eropa, karena selain hafal Al-Qur’an dan ribuan hadits, dia juga menguasai Injil, Weda, Tripitaka dan Bhagavad Gita. Maka, tak hanya mengislamkan orang Kristen, Zakir Naik juga telah mengislamkan banyak orang Hindu. Oleh karena sedemikian rupa menguasai kitab-kitab itu, tidak jarang Zakir Naik mengoreksi jika ada pastor atau pendeta yang salah kutip (www.bersamadakwah.net 10/08/2015).
Ayo Naik!
Umat Islam patut bersyukur karena ada Safari Dakwah bertajuk "Zakir Naik Visit Indonesia 2017", yaitu pada 1 - 10 April 2017. Tercatat, Zakir Naik akan berdakwah di Cibubur, di Universitas Pendidikan Indonesia - Bandung, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Universitas Darussalam Gontor – Ponorogo, di Bekasi, dan di Makassar. Mari, naikkan ‘kelas’ kita dengan berguru kepada ulama –yang kata KH Arifin Ilham- santun, pintar, dan pandai mengemukakan pendapat dengan hujjah yang tepat sedemikian rupa jutaan orang di dunia masuk Islam melalui wasilahnya.
Sabtu, 18 Maret 2017
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan
Kamis, 09 Maret 2017
Ridwal Kamil Paparkan Kiat Memimpin Bandung di Pesantren Tebuireng
Senin, 06 Maret 2017
PEDAS! Inilah Kritikan Aa Gym Bagi Pemfitnah Dr. Zakir Naik
Pria yang akrab disapa Aa Gym itu mengaku sangat senang berbicara dengannya yang begitu bersemangat mengupayakan kemajuan umat.
"Saya banyak terinspirasi setelah bertemu dengan beliau,” kata Aa Gym di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan dengan Zakir Naik, Aa Gym mengaku banyak memberikan masukan tentang keadaan umat Islam di Indonesia. Ia berharap masukan tersebut berdampak positifbagi aktivitas dakwah Zakir Naik.
"Mudah-mudahan semua masukan dapat menginspirasi dan meningkatkan kualitas dakwah beliau yang sudah baik menjadi jauh lebih baik," ungkapnya.
Selain itu, Aa’ Gym juga mengkritik tuduhan-tuduhan buruk terhadap Dr Zakir Naik. Da’i yang dikenal dengan manajemen qolbu itu menegaskan bahwa manusia tidak ada yang sempurna, sehingga tidak perlu mencari-cari kesalahannya.
“Tidak ada orang yang sempurna, cari positifnya, cari yang baiknya, cari yang maslahatnya. Saya juga ada perbedaan pendapat, tapi saya kan ingin cari yang baik yang positif yang bisa membuat Islam itu tampak sangat indah dan membawa maslahat rahmatan lil alamin,” katanya.
Aa Gym juga berharap kunjungan Dr Zakir Naik dan rencana safari dakwahnya ke Indonesia dapat menambah wawasan dan semangat umat untuk mengkaji Islam jadi semakin baik, utamanya wawasan tentang indahnya Islam.
"Sehingga manfaat Islam makin dirasakan, tidak hanya oleh umat Islam. Tapi semua umat diharapkan bisa merasakan Islam yang rahmatan lil alamin," pungkasnya.
Rabu, 01 Maret 2017
Rais ‘Aam PBNU Gagas Rembuk Nasional, Ini Alasannya
Rabu, 15 Februari 2017
KH Ma'ruf Amin, Sosok Ahli Fiqih Terampil
Senin, 13 Februari 2017
9 Komandan Perang Nahdlatul Ulama

Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.

Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.
Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.
Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H Ali vang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.
Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbul¬lah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD. Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya. Dilahirkan di Malang 29 April 1922.

Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.
Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.
Disaat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hiz¬bullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH A Wahib Wfehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya jugamengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya.
Namun sayang perjuangannya harus berakhir dibalik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.
Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut Meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya. Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut "Hamid Roesdi itu Ketua Ansor" ia diMabeskan hingga pensiun.
Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Sura¬baya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal diKedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang. Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H Umar Roesdi.
Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.
Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Ko¬mandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).
Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari.
Sabtu, Juni 10, 2017













