ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Selasa, 14 Februari 2017

Sahabat ABD.Kadir,M.Pd.i terpilih sebagai ketua PAC pada Konferensi PAC GP Ansor Genteng

Banyuwangi,Terselenggara dengan sukses konferensi PAC GP Ansor Genteng pada hari Sabtu 11 februari 2017   pukul 20.00 Wib sampai 23.00Wib  bertempat  di PonPes Al-Mubarok Rt 02 RW 01 dusun Sawahan Desa Genteng Kulon Kecamatan. Genteng .konferensi ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali roda kepengurusan PAC dari kondisi kevakuman yang terjadi  di akhir-akhir ini dengan membentuk kepengurusan baru .

Selain para pengurus Ranting dan pengurus PAC demisoner ,juga hadir pada acara tersebut beberapa tokoh  Masyarakat desa sawahan ,petinggi Ansor dan petinggi NU di tingkat wilayah kecamatan genteng maupun di tingkat wilayah kabupaten Banyuwangi .

Diantara yg hadir pada acara tersebut seperti Bpk. H.Suhadak (kyai /ulama desa sawahan),Sahabat Sodikin (PC GP Ansor BWI),Sahabat  Mashudi (PC GP Ansor BWI),Bpk Syafudin Zuhri (MWC NU Genteng),Bpk H.M.Sodik (MWC NU Genteng),Bpk.Sihabudin Zuhri (MWC NU Genteng).Beliau-beliau dalam sambutanya sangat antusias  dalam  menyemangati para calon yg akan maju mengemban amanah di kepengurusan PAC.

ABD.Kadir,M.Pd.i Ketua PAC terpilih
Acara tahlil mengalun mengawali acara seremonial,,dilanjutkan sambutan-sambutan dan ditutup dengan Doa.Setelah acara seremonial usai acara dilanjutkan dengan rapat sidang pemilihan ketua PAC masa khidmat  2017-2020 yang di pimpin Sahabat Abdul Aziz selaku ketua sidang.


Rapat sidang pemilihan berjalan dengan baik dengan terpilihnya sahabat ABD.Kadir,M.Pd.i sebagai Ketua PAC GP Ansor Genteng .di usai sidang Ketua PAC terpilih memberikan kata sambutan dan langsung membentuk susunan pengurus bersama team formatur.(ansor genteng)



catatanan:selengkapnya foto konferensi klik disini:

http://ansorgenteng.blogspot.co.id/…/kumpulan-foto-konferen…

Catatan Nahdlatul Ulama dan Ansor

 Pertengahan Desember 1940, Surabaya terlihat ramai. Maklum, kala itu Nahdlatul Ulama dan ANSOR Nahdlatul Oelama (ANO) sedang melangsungkan Muktamar ke 15 (NU) dan Kongres ke-5 (ANO) gabungan yang dipusatkan di Kebun Raya, Standstuinnsgebouw, yang berdekatan dengan kantor Gubernur Jawa Timur.
Muktamar NU dan Kongres ANO yang digabung ini dihadiri 1.232 orang terdiri dari 474 Ulama, 276 Pengurus NU non Ulama, 78 Tokoh ANO, 19 Tokoh Muslimat NU, 17 orang Konsul Daerah, 17 Tokoh Puncak HBNO dan 351 Panitia.
Barisan Ansor Nahdlatul Oelama, BANOE (kini BANSER) juga melangsungkan Mubarozah (apel dan Perkemahan jambore) yang ditempatkan di lapangan Kedungdoro Surabaya.
Jelang pembukaan Muktamar dan Kongres, barisan besar BANOE penuh heroik mengadakan taptu (pawai obor) disambung dengan atraksi pencak silat  keliling kota kelahiran NU, Surabaya, dibawah pimpinan Imam Suparlan Suryoseputra, Inspektur Umum Kwartir Besar BANOE.
Surabaya benar-benar meriah, suara gendering, drum band, rebana dan terompet menambah semarak pawai pertama barisan besar BANOE, sayap ANSOR yang disahkan di Kongres ke-3 April 1938 dan diizinkan resmi oleh HBNO lewat Muktamar ke-13 di Menes bulan Juni pada tahun yang sama.
Mendengar gemuruh pawai BANOE tersebut, para ulama yang masih pro-kontra terhadap alat permainan dan bunyi-bunyian semakin terdorong untuk segera membahas.
Dan begitu upacara Pembukaan selesai, langsung diadakan siding komite khusus Syuriah yang beranggotakan 44 Ulama guna membahas hokum gendering dan terompet. Persidangan ulama berlangsung alot dan tegang. Sebagian besar anggota sidang menghukumi boleh/jawaz dan sebagian lainnya menghukumi Haram.
Muktamar ke 15 NU di Surabaya ini juga menghasilkan keputusan sebagai berikut:
  1. Memilih kembali Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai Katib Aam dan KH. Mahfudz Siddiq sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU.
  2. Memberi dukungan atas terpilihnya KH. A. Wahid Hasyim menjadi Ketua Dewan MIAI, dan siap memberi bantuan kepada yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
  3. Menyetujui rencana program yang telah disusun oleh Ketua HBNO Bagian Ma’arif, KH. A. Wahid Hasyim.
  4. Menyerahkan rencana reglemen (peraturan) pertanian NU kepada HBNO.
  5. Mengesahkan reglemen Ansor NU (termasuk pakaian seragamnya/uniform, lagu resmi mars “al-iqdam” dan segala atribut Barisan Ansor NU). Sidang Komite Khusus Syuriah telah mengambil keputusan tentang pemakaian terompet dan genderang Barisan Ansor NU dengan perbandingan: jawaz (35 suara), haram (5 suara), dan abstain (4 suara). Keputusan Sidang Komite Khusus Syuriah tersebut dibenarkan oleh sidang lengkap Syuriah muktamar.
  6. Memberi kuasa kepada HBNO untuk merancang rencana penggunaan uang kas masjid yang dikuasai oleh kantor-kantor kepenghuluan untuk kemaslahatan kaum muslimin.
  7. Mendesak pemerintah untuk mengabulkan beberapa mosi permohonan yang menjadi keputusan Muktamar NU ke-14 di Magelang yang belum ada reaksi dari pemerintah.
Pada muktamar ini pula, NU telah yakin bahwa kemerdekaan akan segera tercapai. Sehingga perlu mengadakan rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas menjadi presiden pertama Indonesia (konvensi pemimpin Indonesia).
Menurut KH. Abdul Halim dalam “Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab”, rapat rahasia ini hanya diperuntukkan 11 orang tokoh NU yang dipimpin oleh KH. Mahfudz Siddiq dengan mengetengahkan dua nama: Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta.
Rapat berakhir dengan kesepakatan: Ir. Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Muhammad Hatta (ketika itu hanya mendapatkan dukungan satu suara), sebagai wakilnya.
Inilah Konvensi pemimpin Indonesia yg pertama dan NU meletakkan dasar-dasar memilih kepemimpinan negeri secara obyektif, penuh keluhuran  bersandarkan pada nilai agama dan spirit nasionalisme Indonesia.
Sejak awal NU mendorong tercapainya kemerdekaan Indonesia. Disaat senjakala kekuasaan penajajah di Indonesia nyaris runtuh, NU telah menggodok dan mengeluarkan sikap resmi siapa yang layak menjadi pemimpin negeri ini.
Sedangkan beberapa keputusan menyangkut Ansor Nahdlatul Ulama yang patut dicatat; setiap anggota ANO wajib memakai uniform dan semua alat-alat unifom harus dibeli di bagian technisch Magazjin PB ANO, setiap anggota ANO wajib berlangganan suara NU dan ANO,  Anggota ANO tidak diperkenankan memasuki Perpindo.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa organisasi ANO mulai menitikberatkan pada peningkatan disiplin anggota, mengadakan kontak hubungan dengan ormas pemuda lainnya, dan juga mengantisipasi perkembangan situasi terkini dalam mapun luar negeri.
Muktamar ke 15 NU dan Kongres V ANO 1940 di Surabaya merupakan gawe terakhir pra Kemerdekaan Indonesia. Maklum, perhelatan akbar ini berlangsung dalam suasana darurat perang (Staat van Beleg), setelah Nedherland diduduki Nazi Jerman.

*adaptasi dari berbagai sumber.

Bangsa Indonesia Perlu Hadapi Lima Tantangan Kelola Maritim

Bangsa Indonesia akan hadapi lima tantangan dalam kegiatan mengelola kawasan maritim setelah hukum internasional memberikan hak kedaulatan dan hak berdaulat.
Hukum internasional membuat Indonesia menjadi sebuah negara kepulauan terbesar di dunia. Pengakuan hukum internasional dan masyarakat internasional akan prinsip hukum negara kepulauan sebenarnya merupakan proklamasi ketiga Indonesia.
“Prinsip hukum negara kepulauan sebenarnya dapat dikatakan sebagai proklamasi ketiga Indonesia, dimana proklamasi pertama adalah deklarasi tertulis indentitas bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda 1928 dan proklamasi kedua adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945,” ujar Deputi Kedaulatan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno dalam orasi ilmiahnya di Auditorium Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada Kamis (18/08/2016) lalu.
Dalam orasi ilmiah bertajuk ‘Pengelolaan Kawasan Maritim dan Perbatasan Indonesia dalam Kerangka Kerja Sama Regional Asia Tenggara’, Havas mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi lima tantangan dalam kegiatan mengelola kawasan maritim setelah hukum internasional memberikan hak kedaulatan dan hak berdaulat.
Tantangan pertama, bangsa Indonesia perlu mengetahui isi kolom air laut, biota laut, kandungan dasar laut, keamanan, dan keselamatan laut.
“Indonesia memerlukan ilmu, teknologi, kapasitas keilmuan, dan pembiayaan yang tidak sedikit serta kemungkinan kerjasama internasional, mengingat sejumlah perairan Indonesia berbatasan dengan yuridiksi negara lain,” jelasnya.
Pemanfaatan segala kekayaan laut Indonesia menjadi tantangan kedua bagi bangsa. Havas mengungkapkan bahwa hal tersebut perlu dilakukan lantaran posisi geostrategis Indonesia. Alur laut navigasi Indonesia tak hanya menghubungkan pulau-pulau yang ada di dalam Indonesia, namun juga menghubungkan kawasan Indonesia dengan perdagangan internasional.
Havas pun mengingatkan akan tantangan ketiga bagi bangsa Indonesia terkait pemahaman akan ancaman terhadap, di, dan dari laut. Sejumlah ancaman tersebut seperti eksploitasi sumber daya alam, adanya pelanggaran hukum di laut seperti penyelundupan dan perdagangan orang, serta ancaman dari negara yang datang melalui laut.
“Tantangan keempat adalah mengamankan kawasan maritim Indonesia dari berbagai ancaman,” jelas Havas. Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan agar bangsa Indonesia mampu memanfaatkan secara maksimal kawasan laut Indonesia.
Melakukan foreign policy projection lewat diplomasi maritim adalah tantangan kelima bagi bangsa Indonesia. “Salah satu bentuk sederhana diplomasi maritim adalah diplomasi perbatasan laut dirancang untuk menyelesaikan delimitasi batas maritim Indonesia dengan negara tetangga, yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Australia, dan PNG,” jelas Havas.
(National Geographic Indonesia)

Spirit Hijrah : Gerakan Memakmurkan Masjid

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [At-Taubah 9 : 18]

Masjid merupakan salah satu sarana yang penting untuk pembinaan umat Islam yang sekaligus juga untuk mengagungkan nama Allah SWT.
Ketika kiamat terjadi, tiada payung selain perlindungan Allah. Salah seorang yang mendapat perlindungan itu adalah orang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid. Ia selalu memikirkan dan bergerak untuk memakmurkan masjid.
Masalah pembangunan masjid telah mendapat perhatian yang sangat besar oleh Rasulullah SAW sendiri, sehingga saat beliau singgah di kota Quba sewaktu dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah ke Madinah, dengan dibantu oleh sahabat-sahabatnya, beliau mendirikan sebuah masjid yang dinamai Masjid Quba.
Juga ketika Rasulullah SAWsampai di kota Madinah, beliau mendirikan Masjid Nabawi. Sebagai orang islam, seharusnya kita memiliki perhatian dan cinta yang besar kepada masjid sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW diatas.
Kecintaan yang besar kepada masjid ini akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap usaha untuk memakmurkan masjid. Rasa cinta kepada masjid ini bisa kita wujutkan sebagaimana kalau kita cinta kepada kekasih ataupun sesuatu (rumah sendiri misalnya).
Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar menekankan bahwa masjid tidak sekedar tempat untuk melaksanakan shalat saja, lebih dari itu masjid juga mestinya digunakan sebagai pusat pergerakan dakwah Islam.
“Kejayaan Islam itu dimulai dari masjid!” tegas Kiai Miftah
Ia mengungkapkan, sejarah mencatat bagaimana perang Khandaq terjadi, dimana Rasulullah merawat para sahabat yang terluka di dalam masjid.
“Sayangnya sekarang tidak sedikit masjid yang pada dikunci, jangankan untuk dijadikan sebagai pusat pergerakan, untuk shalat atau i’tikaf saja orang akan kesulitan melaksanakannya di masjid itu,” tandasnya.
Kiai Miftah mendorong kepada peserta kegiatan agar bergerak dan menggerakan masjid sebagai markas atau pusat kegiatan untuk melayani umat di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya.
“Bergerak itu melahirkan barokah apalagi menggerakan, karena di dalam masjid ada shalat, shalat melahirkan jujur, amanah dan disiplin karena memanfaatkan waktu dengan baik,” ungkapnya.
Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi menambahkan, untuk menyongsong seabad NU, harus bertolak dari masjid, “Dari rumahnya, kita makmurkan masjidnya,” Kemudian, sesuai dengan lambang NU yang bola dunia, kita harus memakmurkan bumi-Nya, yaitu bumi Indonesia, “Dari masjid-Nya, kita makmurkan bumi-Nya.”
Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul ANSOR Jatim, Gus Wahab Yahya juga mendorong kader-kadernya untuk memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat.
REMAJA (REmaja MAsjid aswaJA) merupakan kader GP Ansor berbasis Masjid dan Musholla, ini sebagai wujud nyata Pemuda Ansor dalam gerakan imaratul masajid” tegas Gus Wahab.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online