ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Selasa, 20 Juni 2017

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda ?

Salah satu penulis buku, Khazanah Aswaja, Ustad Yusuf Suharto cerita pengalamannya bersama KH Soleh Qosim Sidoarjo. Pengurus LTM NU Pusat sekaligus Aswaja Center Jatim.

 ’’Saat mengenalkan kami para pengurus Aswaja Center yang muda-muda, Kiai Soleh Qosim selalu menyebut kami dengan panggilan kiai,” ujar Ust Yusuf pengurus Aswaja Center Jatim ini.

Alumni Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini pun penasaran dengan hal itu.’’Saya lalu bertanya. Kami ini kan masih muda-muda, kok sudah dipanggil kiai," ujarnya bertanya.

Kiai Soleh Qosim kemudian menjawab enteng. “ Minhum (golongan diluar NU) itu hapal sedikit ayat dan hadist sudah dipanggil ustadz. Di kita itu antrenya jadi kiai kelamaan. Bahkan antrean disebut gus (panggilan kiai muda) untuk dipanggil kiai saja sangat panjang. Sampai-sampai ada gus yang walaupun sudah tua tetap tidak dipanggil kiai,” paparnya. 

Pertimbangan tersebut sangat masuk akal. Makanya Ustad Abbas Lc,  yang juga pengurus Rijalul Ansor Jombang ketika memandu sesi berikutnya langsung memperkenalkan Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Jombang Gus Latif Malik Lc, sebagai Kiai Latif.   Juga terhadap Ketua Rijalul Ansor Pusat, Gus Aam, diperkenalkan sebagai Kiai Sholahul Am Notobuwono.

Alasan lain memanggil gus terhadap kiai muda juga sudah sering kita dengar dikalangan Ansor. Seperti yang disampaikan Toni Syaifuddin, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kesamben yang juga salah satu pengurus PC GP Ansor Jombang. Saat memanggil pengurus yang lain, beliau selalu mengawali dengan panggilan Gus. 
“Gus itu adanya hanya di NU. Kalau bukan kita yang mengakrabkan panggilan itu, lalu siapa lagi?,” ujarnya saat ditanya alas an memanggil Gus pada pengurus Ansor. 

"Jadi memanggil Gus untuk kiai muda itu merupakan salah satu cara syiar ke-NU-an,” jelasnya enteng

sumber: NU Online

Minggu, 18 Juni 2017

2300 peserta " Mudik bareng NU " hari ini diberangkatkan

Jakarta,
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Takmir Masjid (LTM) memberangkatkan peserta Mudik Bareng PBNU pada Ahad (18/6) di halaman Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat.

Ketua PBNU, KH Abdul Manan Abdul Ghani mengungkapkan momentum mudik sebagai bagian mengingat tanah kelahiran yang berarti tanda kecintaan kepada tanah air.

“Mudik ini kebutuhan fitrah, bahwa kita ingin kembali ke kampung halaman. Kampung halaman itu penting, tanah kita dilahirkan, tempat yang harus kita hormati. Bagian dari iman adalah cinta kepada tanah air,” papar Kiai Manan.

Ia menambahkan tidak bisa dipungkiri air mata kita akan menetes saat ingat akan tanah kelahiran dan tanah air.  Ia juga menegaskan, membantu perjalanan atau menyediakan biaya mudik, merupakan amal yang baik.

Sementara Ketua LTM KH Mansur Syaerozy mengungkapkan Mudik Bareng 2017 merupakan penyelenggaraan mudik ketujuh kali yang diadakan PBNU. Ia sedikit mengulas Mudik Bareng PBNU diawali tahun 2001 dengan 15 kendaraan bus.

“Alhadmulillah setiap tahun jumlah pemudik yang dapat diberangkatkan PBNU selalu bertambah. Tahun lalu ada 1800 pemudik. Dan tahun ini meningkat menjadi 2300 pemudik,” kata Kiai Mansur.

Selain jumlah pemudik yang meningkat pesat pada tahun ini, juga ada penambahan rute yang baru pertama kali disediakan, yakni tujuan Lampung.

Menurutnya Mudik Bareng NU selalu diminati. Ada beberapa kelompok yang antusias mengikuti kegiatan tersebut. Yaitu para mahasiswa atau mahasiswi yang kuliah di Jakarta, anak-anak muda yang baru bekerja, dan para pensiunan. 

“Mereka adalah orang-orang yang cinta kepada NU,” kata Kiai Mansur. 

Pelepasan Mudik Bareng PBNU ditandai dengan pengibaran bendera oleh Ketua PBNU KH Masudi Syuhud, Ketua PBNU KH Abdul Manan Abdul Ghani, Direktur Kelembagaan Bank Mandiri Kartini Shely, dan Direktur 2 Pegadaian Dijono.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan dokumen data peserta Mudik Bareng PBNU 2017 dari Ketua PBNU KH Abdul Manan Abdul Ghani kepada Direktur Kelembagaan Bank Mandiri Kartini Shely.  NU Online 

Jumat, 16 Juni 2017

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Tegal, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam di Indonesia jangan sampai terpecah belah dan berperang sendiri.

Hal itu ditegaskan Gatot  saat Safari Ramadhan dan buka bersama di Lapangan Markas Brigade Infanteri (Brigif)/4 Dewa Ratna di Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (14/6).
 
Gatot menilai, saat ini ada indikasi benih-benih perpecahan mulai muncul seiring dengan sikap saling menjelek-jelekkan dan menyalahkan satu sama lain.

"Benih-benih ini sudah mulai ada. Mari kita ingatkan teman-teman kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang. Jika kita biarkan ini, negara kita bisa porak poranda," ujar Jenderal bintang empat ini.

Orang nomor satu di jajaran TNI itu menyebutkan, setiap muslim harus rendah hati. Sifat sombong hanya milik Allah. Dalam konteks kekinian, banyak orang yang cenderung mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah benar sementara yang lain salah.

Menurutnya, jika umat Islam tidak berpedoman pada nilai-nilai ini (rendah hati dan tidak menyalahkan orang lain-red), maka perang saudara tidak terelakkan. Perang saudara dan hilangnya sikap cinta tanah air inilah yang menjadi salah satu sebab negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah berkecamuk hingga sekarang.

Meski demikian, Jenderal kelahiran Tegal itu menyebut, Jawa Tengah merupakan daerah yang adem ayem. Di saat beberapa daerah lain sedikit bergejolak, Jawa Tengah telah menunjukkan diri bahwa masyarakatnya hidup guyup dan rukun.

Menurut dia, hal itu tak lepas dari peran ulama yang bersinergi dengan TNI-Polri, serta semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Gatot merencanakan gerakan doa bersama seluruh elemen masyarakat yang akan digelar bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Kegiatan itu dikhususkan pada khataman Al-Qur’an yang digelar di seluruh markas atau kantor satuan jajaran TNI dari Sabang sampai Merauke.

Adapun buka bersama diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Selain itu, juga digelar santunan kepada 1.423 anak yatim. 

Kegiatan tersebut juga diikuti Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Tatang Sulaiman, Kapolda Irjen Condro Kirono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ulama Kharismatik asal Pekalongan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Tohir Alkaf, Bupati Tegal Enthus Susmono dan tokoh-tokoh lainnya.NU Online

Kamis, 15 Juni 2017

Hidupkan Tradisi Lama Melalui Festival Patrol

Bupati Anas sedang mengajari dua anak wisatawan asing
yang ikut menyaksikan pembukaan Festival Patrol bermain musik patrol di atas panggung.
BANYUWANGI – Untuk melestarikan tradisi musik patrol, Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Patrol. Pembukaan Festival Patrol itu dilakukan Bupati Abdullah Azwar di halaman Stadion Diponegoro kemarin malam (13/6).
Pembukaan festival patrol berlangsung lancar dan semarak. Walau pun udara malam cukup dingin, warga tetap antusias membanjiri lokasi tersebut. Tampak pula di tengah undangan Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu beserta istri, Ketua DPRD Pakpak Bharat dan beberapa anggotanya, serta para kepala SKPD.
Selain itu juga terlihat beberapa wisatawan asing yang tampak begitu menikmati pertunjukan tersebut bersama anggota keluarganya. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan alat musik terothok Bupati Azwar Anas, Bupati Pakpak Bharat, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, dan para wisatawan asing yang hadir.
Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan penampilan patrol anggota Polres Banyuwangi sebagai pembuka. Berlanjut dengan penampilan grup patrol Kampung Kawitan Temenggungan Banyuwangi yang membawakan jazz patrol dengan irama unik yang tak kalah memikat.
Bupati Anas mengatakan festival patrol sengaja digelar untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang saat ini sudah mulai tergeser. Patrol adalah tradisi unik karena hanya bisa dijumpai saat bulan Ramadhan.
“Patrol adalah tradisi kebersamaan yang harus kita lestarikan. Tradisi ini tidak hanya membangunkan orang untuk makan sahur, tapi juga menjaga keamanan lingkungan. Melalui festival semacam ini, kita coba membangkitkan kembali tradisi lama yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat,” kata Anas.
Festival patrol ini, juga melibatkan para budayawan sebagai kurator. Di samping juga melibatkan seniman-seniman muda yang pandai menge mas patrol menjadi sesuatu yang berbeda. “Contohnya jazz patrol dari Kawitan yang memang digagas anak-anak muda di Kampung Temenggungan. Mereka pun terbiasa melibatkan musisi dari berbagai negara saat menyelenggarakan pertunjukan musik di kampungnya,” ujar Anas.
Digelar selama dua hari, di hari pertama event ini diikuti 25 grup. Mereka perform sambil berjalan keliling kampung. Namun sebelumnya, masing-masing grup tersebut diberi kesempatan unjuk kebolehan bermusik dan bernyanyi di atas panggung.
Festival patrol diikuti 25 grup patrol yang dihimpun dari seluruh kecamatan yang ada di Banyuwangi. Masing-masing grup, terdiri dari 15 orang yang memiliki keahlian berbeda-beda. Ada yang pegang seruling, therotok, gong, tempal, kentongan atau pethit.
Selain alat musik, festival ini juga disertai vokalis yang mengiringi musik patrol dengan sejumlah lagu-lagu bernafaskan islami. Seperti muruk ngaji, tombo ati, dan muji syukur. Selama dua malam, para peserta berkeliling ke kampung-kampung.
Kemarin malam (Selasa, 13/6), grup penampil dari Kecamatan Glagah, Rogojampi, Pesanggaran, Tegaldlimo, Purwoharjo, Cluring, Giri, Singojuruh, Wongsorejo, Blimbingsari, Genteng, Gambiran dan Songgon.
Mereka start dari depan Stadion Diponegoro-finish depan RTH Taman Makam Pahlawan dengan melewati sejumlah kampung di jalan Jagung Suprapto, jalan Kapuas, Jalan Musi, jalan Bengawan, Jalan Serayu, jalan Datuk Malik lbrahim, Jalan dr Soetomo, Jalan Pierre Tendean, Jalan Haryono, Jalan Ngurah Rai, jalan A.Yani dan berakhir di depan kantor Pemkab Banyuwangi.
Sedangkan malam kedua tadi malam (Rabu, 14/6), giliran 12 kontingen dari Kecamatan Tegaisari, Srono, Kalibaru, Sempu, Kalipuro, Banyuwangi, Bangorejo, Muncar, Slliragung, Kabat, Licin dan Glenmore.
Mereka akan mengambil start dari tempat yang sama di depan Stadion Diponegoro-finish Pendopo Shaba Swagata Blambangan melewati jalan kampung. Rutenya, jalan Kapuas, jalan Musi, jalan Bengawan, jalan Kali Lo, jalan MH Thamrin, jalan Jembatan KH Abu Amar, jalan Bromo, jalan Nias, jalan Sidopekso, selanjutnya menuju Sritanjung, depan Pendopo kabupaten.
Kreteria penilaian yang ditentukan panitia Festival patroi yaitu, saat start sampai finis sajian teknik penabuh patroi (kreasi kelompok instrumen), teknik atraksi penampilan dan harmonisasi antara irama musik, atraksi dan gending yang dibawakan. Dalam perjalanan yang dinilai yaitu kekompakan, semangat dan ketertiban. (radar)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online