ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Selasa, 14 Februari 2017

Kala Kiai Banser Menjadi Komandan Upacara Resolusi Jihad


Menyambut Hari Santri Nasional, resolusi Jihad NU dan meneladani perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia 1945.
Pimpinan cabang dari organisasi Islam terbesar di dunia menggelar apel akbar di lapangan kampung yang diikuti ribuan warga, nahdliyyin dan santri di kawasan cabang tersebut.
Apel akbar resolusi jihad hari santri dan kesetiaan pada NKRI dipimpin syuriah NU sebagai komandan upacara yang jebolan Banser di era Revolusi.
Sebagaimana biasa saban upacara dilakukan, pasti ada prosesi pelaporan kesiapan pasukan atawa peserta upacara kepada inspektur upacara.
Diawali aba-aba komandan upacara dengan suara menggelegar “kepada inspektur upacara, Hormaaaat Grak !!.” sontak seluruh pasukan berdiri tegak, dan sebagian peserta laki-laki mengambil posisi tegak dengan tangan menutupi kemaluan.
Sang kiai kampung yang menjadi komandan upacara melanjutkan laporan dengan lantang “lapor, seluruh peleton dan Kompi  siap melaksanakan upacara…!!”maklum, mantan ketua Banser di desanya, kala itu.
Laporan itupun seperti biasa dijawab inspektur upacara dengan tegas “Lanjutkan.….!!”
Dan diluar kebiasaan resmi upacara. Komandan yang kiai ini menyahuti “Insya Allah…!!”
Inspektur Upacara menyahut “Alhamdulillah“.
Para peserta upacara dengan kompak bersoloroh “Aminnnn.!!”.
Akhirnya, seluruh rangkaian apel akbar berjalan sesuai protap khas nahdliyyin kampung dengan penuh khidmat, santun dan dalam tempo yang seperlunya.
Dan seperti biasanya, diringi sholawatan, seluruh peserta apel saling bersalaman satu sama lain. (norkus)

Senin, 13 Februari 2017

9 Komandan Perang Nahdlatul Ulama

Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari tinta sejarah kemerdekaan Indonesia. Dari pergolakan perjuangan melawan Penjajahan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.
1. KH ZAINUL ARIFIN

Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.
Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.
2. KH. MASJKUR

Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.
Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.
Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.
3. KH MUNASIR ALI

Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H Ali vang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.
Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbul¬lah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD. Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.
4. KH SULLAM SYAMSUN

Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya. Dilahirkan di Malang 29 April 1922.
Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan te¬lah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.
5. KH ISKANDAR SULAIMAN

Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan. Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.
Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.
6. KH HASYIM LATIEF

Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.
Disaat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hiz¬bullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH A Wahib Wfehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.
7. KH ZAINAL MUSTOFA

Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya jugamengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya.
Namun sayang perjuangannya harus berakhir dibalik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.
8. H ABDUL MANAN WIJAYA

Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.
Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut Meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya. Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut "Hamid Roesdi itu Ketua Ansor" ia diMabeskan hingga pensiun.
Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
9. HAMID ROESDI

Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Sura¬baya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal diKedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang. Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H Umar Roesdi.
Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.
Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Ko¬mandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).
Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari.

Sepotong Sejarah Perdebatan Nama “Nahdlatul Ulama”

Sebagaimana nama-nama organisasi besar pada umumnya, nama Nahdlatul Ulama juga lahir dari pemikiran dan proses perdebatan yang intensif. Nama itu bermula dari bertemunya para kiai terkemuka pada 31 Januari 1926 di kampong Kertopaten Surabaya. Mereka berkumpul dalam rangka membahas dan menunjuk delegasi komite Hijaz—utusan yang hendak dikirim untuk menyampaikan pesan kepada Raja Abdul Aziz Ibnu Sa’ud.
Seperti tercatat dalam sejarah, Ibnu Sa’ud yang menjadi penguasa baru Hijaz (Saudi Arabia) waktu itu terkenal dengan kebijakannya yang meresahkan umat Islam di berbagai belahan dunia. Selain memberangus pluralitas madzhab, sang raja juga berniat menggusur situs-situs peradaban Islam, termasuk makam Rasulullah.
Yang beredar di benak para ulama waktu itu adalah organisasi apa dan apa pula namanya yang akan bertindak selaku pemberi mandat kepada delegasi tersebut?
Di sinilah perdebatan sengit seputar nama organisasi berlangsung, seperti diceritakan oleh Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010 (Surabaya: Duta Aksara Mulia). Setidaknya ada dua nama atau usulan. Kedua nama ini secara prinsip sebenarnya sama namun memiliki implikasi yang berbeda.
KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama disertai penjelasan bahwa para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Pendapat ini disambut oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz dengan sebuah sanggahan. Menurutnya, kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya saja, kata Kiai Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisasi secara rapi.
Lewat argumentasi itu, Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi”.
Forum para kiai secara aklamasi menerima usulan KH Mas Ali bin Abdul Azis. Nama “Nahdlatul Ulama” pun ditetapkan pada hari itu juga, 16 Rajab 1344 H, tanggal bersejarah lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang diperingati setiap tahun hingga kini.
Penjelasan sejarah ini menggambarkan kesan bahwa pendirian NU tak ubahnya seperti mewadahi suatu barang yang sudah ada. NU hanyalah sebagai penegasan formal dari mekanisme informal para ulama yang sepaham, serta pemegang tradisi dan cita-cita yang sehaluan.
Tentang nama “Nahdlatul Ulama”, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga punya pendapat. Dalam sejumlah kesempatan ia mengatakan bahwa nama ini diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab al-Hikam yang populer di kalangan pesantren itu.
Akar kata “Nahdlatul Ulama” termuat dalam salah satu aforismenya yang berbunyi: “Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah)”. Menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering mengutip ungkapan itu. Kata ‘yunhidlu‘, artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah jalan Allah. (NU online)

Anak Kecanduan Gadget? Ada Lima Cara yang Bisa Ibu Lakukan

ilustrasi : jpnn.com
 Ibu-ibu, waspada jika anak ibu menatap layar gadget, bermain permainan hingga berjam-jam. Selain kecanduan juga akan berdampak buruk pada nilai sekolahnya.
Dilansir Pop Sugar, Minggu (12/2), sebanyak 9 dari 10 ibu menjawab “Sebentar ya Nak” saat akan mengambil gadget anaknya.
Hal itu karena anak mencintai dunia digital dengan fantasi disertai warna dan kesenangan yang didapatkan.
Salah satu permainan misalnya Minecraft membuat anak jika sudah bermain permainan ini akan sulit dihentikan. Inilah sebabnya mengapa anak-anak sulit melepaskan gadget mereka. Ada 5 tips untuk meminimalkan perdebatan dengan anak saat menyingkirkan gadgetnya.
1. Cari Aktivitas Lain
Aktivitas lain akan membuatnya lupa sejenak. Atau mengajak anak jalan-jalan tanpa gadget. Saat pulang ke rumah, anak sudah mengantuk dan saatnya tidur.
2. Gunakan Batas Waktu
Gunakan visual sistem batas waktu pada gadget untuk membatasi waktu anak bermain. Ajari mereka untuk bertanggungjawab atas proses yang dilakukan. Ketika waktunya habis, maka suara atau visual akan muncul pada gadget. Lakukan perjanjian ini dengan anak sebelum bermain.
3. Pilihkan Aplikasi
Pilihkan aplikasi permainan bagi anak yang memiliki batas waktu sehingga aplikasi berhenti sendiri. Kemudian terserah kepada orangtua untuk memastikan anak tidak melompat ke aplikasi lain.
4. Berhenti Secara Alami
Ajari anak-anak untuk berhenti secara alami. Sebelum anak bermain gadget, lakukan perjanjian berapa lama mereka akan bermain. Tetapkan batas waktu bersama-sama.
5. Ajarkan Soal Konsekuensi atau Sebab Akibat
Diskusikan konsekuensi dan tindak lanjut ketika anak-anak melewati batas. Ajarkan mereka soal dampak sebab dan akibat memakai gadget terlalu lama. Misalnya jika terlalu lama menggunakan gadget akan membuat mereka malas, nilai buruk, sehingga dimarahi guru atau sebab akibat lainnya. (cr1/JPG/batampos)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online