ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Minggu, 12 Februari 2017

KH Saleh Lateng Banyuwangi, Pejuang Senyap di Garda Depan Revolusi

Oleh Munawir Aziz

Jaringan ulama santri berperan penting untuk menjemput sekaligus menegakkan kemerdekaan. Para kiai dan santri menjadi tulang punggung perjuangan melawan kolonial, sejak pasca Walisongo hingga 1945. Kiai-kiai di pesantren mengabdikan diri untuk mendidik santri, membentuk jaringan antar pesantren, sekaligus mengobarkan semangat untuk berjuang mengawal kemerdekaan. Inilah peran penting kiai-santri yang harus dicatat oleh sejarah bangsa Indonesia. Namun, sayang sekali tidak banyak catatan sejarah yang menarasikan perjuangan santri.
Sejarawan lebih senang menyisir perjuangan jaringan militer pada masa kemerdekaan. Padahal, jaringan militer pada kiai-santri telah terbentuk sejak masa Dipanegara, yang berhasil mengobarkan semangat untuk berjuang pada masa Perang Jawa (1825-1830). Meski pada akhirnya kalah, namun semangat juang dan jaringan santri-kiai tidak padam, justru semakin kuat dengan membentuk koneksi di penjuru nusantara. Perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan menjadi buktinya (Bizawie, 2014; 2016).
Pada ujung abad 19 dan paruh pertama abad 20, kisah Kiai Saleh Lateng Banyuwangi layak disimak sebagai cermin sejarah, sebagai kaca benggala dalam memaknai perjuangan kaum pesantren. Siapa sebenarnya Kiai Saleh Lateng? Bagaimana perjuangannya dalam mengawal kemerdekaan dan mengabdi untuk negeri?
Kiai Saleh lahir di Kota Mandar, Banyuwangi, pada Ahad, 6 Ramadhan 1278 H/ 07 Maret  1862. Ia memiliki nama kecil Ki Agus Muhammad Saleh. Ayahnya bernama Ki Agus Abdul Hadi, sedangkan Ibunya bernama Aisyah. Kiai Saleh memiliki jalur nasab hingga Raja Palembang.
Bagaimana kisahnya keluarga Kiai Saleh mendarat di Banyuwangi? Pada sekitar awal abad 19, Kerajaan Palembang Darussalam telah kehilangan kontrol kekuasaan. Belanda berhasil memegang kendali wilayah kerajaan ini. Raja Palembang, Sultan Najamuddin dibuang ke Aceh, sedangkan kawasan Palembang dikendalikan oleh seorang Residen Belanda. Pada masa genting itu, sebagian besar bangsawan kerajaan Palembang memilih untuk menyingkirkan diri. Situasi yang tidak aman serta kekejaman Belanda menjadikan para keluarga kerajaan berusaha untuk mencari lokasi baru untuk tempat tinggal.
Ki Agus Abdurrahman—kakek Kiai Saleh—merupakan bangsawan Kerajaan Palembang yang memilih menyingkirkan keluarganya. Beliau hijrah ke Sumenep di ujung timur Madura. Pada waktu itu, Sumenep masih menjadi basis kerajaan Islam yang sangat kuat, dengan kultur masyarakat setempat yang kental dengan tradisi muslim. Ki Agus Abdurrahman mendapatkan jodoh di Sumenep, menikah dengan Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga keturunan, namun hanya seorang yang meneruskan perjuangan Ki Agus Abdurrahman dalam berdakwah dan menggeluti ilmu keislaman, yakni Ki Agus Abdul Hadi.
Selang beberapa waktu, Ki Agus Abdul Hadi hijrah ke Banyuwangi, di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Di kawasan Banyuwangi inilah, Ki Agus Abdul Hadi mendapatkan jodoh bernama Aisyah. Pasangan ini menetap di kawasan Kota Mandar Banyuwangi, hingga melahirkan putra bernama Ki Agus Muhammad Saleh, atau yang terkenal dengan sebutan Kiai Saleh Lateng.
Sejak kecil, Ki Agus Muhammad Saleh telah mengaji kepada orang tuanya. Ia mendapat didikan sebagai seorang santri, belajar al-Qur’an dan kajian keislaman dalam tradisi pesantren. Pada usia remaja, sekitar usia 15 tahun, Kiai Saleh mengaji di pesantren Kebondalem Surabaya, asuhan Kiai Mas Ahmad. Kemudian, beliau melanjutkan mengaji kepada Syaikhona Khalil di Bangkalan Madura, lalu tabarrukan kepada Tuan Guru Muhammad Said di Jembrana Bali. Selepas mengaji di Jawa, Madura dan Bali, Kiai Saleh kemudian melanjutkan mengaji di Makkah.
Ketika belajar di Makkah, Kiai Saleh telah dianggap sebagai rujukan keilmuan, ia mengajar beberapa santri di kota suci dengan menggunakan empat bahasa. Di ujung abad 19, Syaichona Kholil Bangkalan meminta Kiai Saleh untuk pulang ke tanah air, mengabdikan diri untuk mendidik santri dan berjuang mengawal pergerakan. Kiai Saleh meminta waktu satu tahun untuk menuntaskan mengaji di Hijaz.
Pada tahun 1900, pada umur 38 tahun, Kiai Saleh kembali ke kampung halaman, di kawasan Lateng Banyuwangi. Lambat laun, nama Kiai Saleh Lateng menjadi terkenal karena kealiman dan pengabdiannya dalam mendidik para santri. Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro memberikan izin kepada Kiai Saleh Lateng untuk mengajar, sejak 4 Maret 1909. Dari kampung halaman di kawasan Lateng, Kiai Saleh berhasil menebarkan ilmu Islam ke masyarakat di penjuru Banyuwangi dan sekitarnya.
Di ujung abad 19 dan awal abad 20, kawasan Banyuwangi masih diwarnai kekerasan oleh para bromocorah. Banyuwangi merupakan kawasan kerajaan Blambangan, yang menjadi pusat kekuasaan di ujung timur Jawa. Kerajaan Blambangan memiliki peran sentral, yang berkembang bersamaan dengan Majapahit. Selepas Majapahit runtuh, Blambangan menjadi satu-satunya kerajaan di ujung timur Jawa yang mengontrol wilayah di kawasan Banyuwangi, Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Pada 1743, Raja Pakubuwono II dari Mataram menyerahkan Java Oesthoek (kawasan sebelah timur Malang hingga Banyuwangi) termasuk Blambangan kepada VOC. Namun, justru VOC menelantarkan wilayah ini. Pada 1767 pemerintah Kompeni di Batavia (Hoge Regering) baru mengirimkan tentara untuk melakukan kontrol administratif (Margana, 2007; 2012).
Kawasan di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi tanah pergolakan. Perlawanan warga terhadap tentara penjajah sudah berlangsung lama, hingga menjadi karakter. Bromocorah dan begal berkembang marak, kekerasan menjadi sikap yang tidak bisa dihindari. Sikap keras warga Banyuwangi dengan berbagai macam masalah menjadi keseharian Kiai Saleh Lateng. Bromocorah dan begal mewarnai kehidupan warga kawasan Blambangan, dengan segenap tindakan kriminal yang menyertai. Tantangan Kiai Saleh Lateng tidak hanya bagaimana mengembangkan dakwah islamiyyah, namun juga bagaimana menaklukkan para bromocorah yang mengganggu.
Dengan keyakinan diri, bekal ilmu kanuragan dari Syaichona Khalil, serta atas pertolongan Allah, Kiai Saleh Lateng berhasil meredam konflik-konflik dan kekerasan pada warga Banyuwangi. Meredam konflik antar bromocorah bukanlah hal yang mudah, mengingat tindak kekerasan dengan kenekadan tingkat tinggi menjadi bagian dari wajah begal-begal Banyuwangi. Inilah kelebihan Kiai Saleh Lateng, yang mampu menyatukan para begal-bromocorah, hingga akhirnya takluk dan menjadi pengikut Kiai Saleh Lateng. Bahkan, para bromocorah menjadi mengikut setia Kiai Saleh Lateng, dengan belajar mengaji, bela diri hingga berjuang bersama melawan penjajah di kawasan Banyuwangi dan sekitarnya.
Kiai Saleh Lateng merupakan tipikal kiai penggerak. Beliau memegang peranan startegis dalam mengkonsolidasi jaringan ulama-santri untuk berdakwah dan mengawal kemerdekaan Indonesia. Kiai Saleh Lateng juga menjadi kiai penting pada masa awal pendirian Nahdlatul Ulama, bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan beberapa kiai lainnya di penjuru Nusantara.
Pada awalnya, Kiai Saleh Lateng menggerakkan Sarekat Islam. Hal ini merupakan hal yang lumrah, karena pada awal abad 20, pergerakan Syarekat Islam menjadi gerbong bagi para kiai-santri untuk menyuarakan kemerdekaan dan mengorganisasi diri. Meski pada akhirnya para kiai memisahkan diri dari pergerakan Sarekat Islam. Hal ini juga terjadi pada Kiai Wahab Chasbullah, yang pernah menjadi penggerak Sarekat Islam sewaktu mengaji di Hijaz. Ketika kembali ke tanah air, Kiai Wahab Chasbullah membentuk organisasi sendiri dengan merangkul kiai santri, dalam Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan, hingga kemudian terbentuklah Nahdlatul Ulama.
Kiai Saleh Lateng, yang pada awalnya menggerakkan Sarekat Islam di Banyuwangi, kemudian menjadi tokoh penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Bahkan, pada 1913, Kiai Saleh Lateng memimpin Rapat Umum Sarekat Islam di Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Dengan demikian, peranan Kiai Saleh dalam menggerakkan jaringan Islam di awal abad 20, diakui memiliki kontribusi penting. Ketika Komite Hijaz dibentuk, Kiai Saleh Lateng bergabung bersama barisan kiai. Ikatan emosional ketika mengaji di beberapa pesantren, terutama pesantren Bangkalan dan Makkah, menambah kekuatan komunikasi antara Kiai Saleh dengan beberapa kiai lainnya.
Ketika masa awal pendirian Nahdlatul Ulama, yakni pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926, Kiai Saleh Lateng ditunjuk oleh Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah menjadi anggota muassis-mukhtasar (formatur) pendirian Nahdlatul Ulama.
Garda Depan Revolusi Kemerdekaan
Ketika masa revolusi kemerdekaan, Kiai Saleh Lateng tidak hanya berperan mengirimkan para santrinya, beliau juga terlibat langsung dalam pertempuran di garda depan. Gema Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi panggilan berjihad bagi para kiai santri, khususnya di kawasan Jawa Timur dan Madura. Kiai Saleh juga terpanggil dengan pernyataan jihad kemerdekaan yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Laskar-laskar santri bergerak untuk mengawal negeri (Latief, 1995).
Perjuangan yang gigih bagi Kiai Saleh Lateng merupakan panggilan hati. Karena perjuangan untuk mengawal kemerdekaan inilah, Kiai Saleh dikejar-kejar oleh tentara dan intel Belanda. Beliau kemudian menyingkir ke kawasan Pakisaji. Ketika menyingkir inilah, Kiai Saleh Lateng bertemu para santrinya yang juga dikejar intel Belanda. Terbukti kemudian bahwa, Kiai Saleh Lateng menjadi panutan para santri karena perjuangan total dalam mengawal kemerdekaan di medan laga.
Sikap Kiai Saleh terhadap penjajah sangat keras dan tanpa kompromi. Ketika masa menjelang kemerdekaan, Kiai Saleh melarang para santrinya untuk berpakaian menyerupai kaum penjajah. Hal ini karena, prinsipnya bahwa menyerupai kaum (kafir) berarti termasuk di dalam komunitasnya. Inilah yang dihindari oleh Kiai Saleh, agar perjuangan para santri dengan tekad bulat dan total dalam menegaskan identitas.
Kiai Saleh Lateng juga memiliki hubungan yang baik dengan Kiai Wahid Hasyim. Suatu ketika, setelah masa kemerdekaan, Kiai Wahid Hasyim mendapatkan amanah untuk turut serta membangun pemerintahan, mengawal kemerdekaan. Kiai Wahid menjadi Menteri Agama pertama, membantu Soekarno dan Hatta sebagai Presiden-Wakil Presiden. Ketika menyusun pedoman pembentukan organ kementrian, Kiai Wahid Hasyim mencari kitab-kitab rujukan ke beberapa pesantren, serta mengutus wakil untuk silaturahmi ke beberapa kiai. Kebetulan, di pesantren Kiai Saleh, kitab rujukan ini ditemukan, yakni kitab ‘Mu’jamul Buldan’.
Pengabdian panjang Kiai Saleh Lateng menjadi pelajaran penting bagaimana seharusnya santri berpikir, bersikap dan mengabdi untuk mengawal negeri. Kiai Saleh berdakwah dengan mengajar santri, sekaligus turut serta berjuang untuk menjemput kemerdekaan dan mengawal berdirinya negara. Perpaduan Islam dan nasionalisme bagi kaum pesantren, tidak sekedar konsep yang tertulis, namun dipraktikkan dalam sepenuh keteladana. Bagi kaum santri, perjuangan mengawal negara merupakan panggilan jiwa, lonceng yang berdentang dari hati terdalam. Perjuangan mengawal NKRI tercermin dari seluruh kehidupan panjang Kiai Saleh Lateng, yang dengan ikhlas berjuang serta mengabdi untuk negeri.
Kiai Saleh Lateng wafat pada malam Rabu, 29 Dzulqo’dah 1371 H/ 20 Agustus 1952 pada usia 93 tahun. Jenazahnya disemayamkan di sebelah musholla (Langgar), tempat Kiai Saleh Lateng biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya. Pada tahun 1956, DPRD Kabupaten Banyuwangi memberikan keputusan penggunaan mana KH. Saleh Lateng untuk sebuah ruas jalan. Keputusan DPRD Banyuwangi ini untuk menghormati perjuangan dan pengabdian Kiai Saleh Lateng dalam mendidik warga sekaligus berjuang untuk negeri.***
Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU, Peneliti Islam Nusantara.
Referensi:
Bizawie, Zainul Milal. Laskar Ulama Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia, 1945-1949. Tangerang: Pustaka Compass. 2014.
Bizawie, Zainul Milal. Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri (1830-1945).Tangerang: Pustaka Compass. 2016.
Latief, Hisyam. Laskar Hizbullah: Berjuang menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU. 1995.
Margana, Sri. Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, 1763-1818. Thesis Dissertation. Universiteit Leiden, 2007
Margana, Sri. Perebutan Hegemoni Blambangan: Ujung Timur Pulau Jawa, 1763-1818. Yogyakarta: Pustaka Ifada. 2012.

KONTAK KAMI



Selamat datang di wabsite resmi PAC GP ANSOR Genteng.

Kirim berita ,foto/vidio kegiatan  ke email kami:


ansorgenteng2017@gmail.com

  http://picasion.com/

Susunan Pengurus PAC GP ANSOR Genteng



PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR
KECAMATAN GENTENG KABUPATEN BANYUWANGI
MASA KHIDMAT 2017 – 2020
KETUA :
Abd.Kadir,M.Pd.I
WAKIL KETUA
Bambang Irawan,S.Sos
Shihabudin Zuhri
Supono
H.Muhammad Husaini
M.Muslikhin,S.Pd.I

SEKRETARIS :
Abdul Rokhman,S.Pd
WAKIL SEKRETARIS
Muhamad Agusno
M.Fauzi
Imron Rosyidi
M.Shodik
Zainur Rosyidi

BENDAHARA :
Deni Agus Cahyono
WAKIL BENDAHARA
Amir Mahmud
Sigit cahyono
Muhammad Sutrisno

http://picasion.com/

Rabu, 08 Februari 2017

Kyai di banyuwangi Kompak Menolak Pendataan Ulama

BANYUWANGI – Sejumlah kyai dan ulama menolak jika di Banyuwangi ada pendataan terhadap kyai yang dilakukan aparat kepolisian. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi terang-terangan menolak jika ada pendataan kyai  di Bumi Blambangan.
Penolakan tersebut dilontarkan karena berpotensi menimbulkan salah paham hingga mengakibatkan trauma baru bagi masyarakat. Penolakan itu disampaikan oleh Ketua MUI Banyuwangi KH.Mohamad Yamin usai bersilaturahmi dengan Kapolres AKBP Agus Yulianto di Rupatama Mapolres Banyuwangi, kemarin.
“Pendataan kyai justru berpotensi menimbulkan salah paham. Janganlah mengadakan pendataan tersebut. selama ini komunikasi antara umara dan ulama sudah berjalan baik. Komunikasi para tokoh agama dengan forum pimpinan daerah (forpimda)  juga bagus. Kerukunan intra umat beragama serta antarumat beragama sudah baik,” tegas  KH.Mohamad Yamin dihubungi tadi malam.
Dikatakan KH.Mohamad Yamin, ketenteraman dan situasi kondusif di Banyuwangi selama ini sudah terjaga  dengan baik. Karena itu, pihaknya berharap isu-isu yang berkembang di Jakarta tidak dibawa ke daerah-daerah lain, terutama di Banyuwangi.
“Pertemuan tadi (kemarin) dalam rangka menyamakan persepsi. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah final,” ujarnya. Diungkapkan Yamin, dalam pertemuan kemarin Kapolres menjelaskan, pendataan terhadap ulama dan kyai sedianya akan dilakukan lantaran Kapolda Jatim saat ini baru menjabat. Karena itu, Kapolda ingin tahu nama-nama ulama yang ada di wilayah Jatim untuk memudahkan komunikasi.
“Tetapi, menurut kami, daripada menimbulkan salah paham. Lebih baik tidak usah (pendataan ulama). Sebab, pengalaman yang lalu, di zaman Bupati Purnomo Sidik ada pendataan semacam itu dan akhirnya memunculkan trauma dimasyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, pertemuan yang berlangsung di Rupatama Polres Banyuwangi kemarin membicarakan banyak hal. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi, KH. Muhamad Yamin; Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU),  KH. Masykur Ali; Rais Syuriah NU, KH. Hisyam Syafaat; Ketua Pimpinan Daerah Muham- madiyah (PDM), DR. Mukhlis Lahuddin, Msi; Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi H.Slamet; dan Kapolres  AKBP Agus Yulianto.
Efek dugaan penistaan terhadap KH. Makruf Amin dalam persidangan Basuki Tjahaya Purnama alais Ahok juga dibahas dalam  pertemuan tersebut. Persoalan ini memiliki dampak luar biasa di sejumlah daerah. Reaksi pun bermunculan terkait insiden yang terjadi di Jakarta tersebut.
Meredam efek panas dari gejolak tersebut, Polres Banyuwangi bersama sejumlah tokoh ormas seperti NU dan Muhammadiyah bertemu  dengan Kapolres di Rupatama Polres Banyuwangi kemarin. Pertemuan yang berlangsung 90  menit itu dibahas sejumlah masalah  yang dihadapi umat terkait kisruh politik di ibu kota tersebut.
Seperti diungkapkan oleh Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi DR. H. Mukhlis Lahuddin, M.Si kemarin.  Menurutnya, ada semacam rasa  waswas di hati umat Islam saat ini. Isu yang berkembang saat  ini memunculkan adanya rasa curiga-mencurigai.
Tidak mengherankan bila kemudian ada kekhawatiran insiden serupa seperti tahun 1998 dan 1999 akan  terulang. Dimana saat itu yang  terjadi persis seperti sekarang. “Saya waswas ada pendaftaran  kyai,” ujarnya. Hal senada diungkapkan oleh  Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali.
Pengasuh Ponpes Ibnu Sina Jalen, Genteng itu menjelaskan, insiden yang telah terjadi di ibu kota atas diri KH. Makruf Amin sebetulnya sudah membuat warga NU resah dan marah. Meski begitu,  lanjut KH. Masykur Ali, warga NU tetap  berkomitmen menjaga stabilitas dan keamanan negara.
Dia menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Dan perlu diingat dalam perjalanan negara ini, NU turut mewarnai dan mendesain pilar berdirinya negara. Karena itu, lanjut KH. Masykur Ali, untuk mendukung stabilitas dan keamanan negara tersebut, PCNU  meminta seluruh cabang dan ranting maupun pesantren untuk tetap dalam satu barisan dan komando.
Dalam kesempatan itu, KH. Masykur Ali juga menyinggung soal pendataan kyai yang dilakukan aparat kepolisian. “Menurut kami, pendataan kyai  dan juru dakwah tidak usah dilakukan,’’ pintanya. Kepala Kemenag Banyuwangi H.Slamet  menambahkan, apa yang terjadi  di Jakarta tidak akan terjadi di  Banyuwangi.
Keyakinan itu  didasari bahwa ulama dan rakyat  Banyuwangi bersama-sama  menjaga situasi Banyuwangi. Disisi lain, Kapolres Banyuwangi AKBP Agus Yulianto menyambut baik pertemuan ini. Silahturahmi ini merupakan bagian dalam upaya menjaga komunikasi dan silaturahmi  dengan tokoh agama di Banyuwangi.
“Setelah ini kami akan sowan ke kyai dan tokoh ulama secara  langsung,” tegasnya. (radar)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online