ansorgenteng.blogspot.co.id

ansorgenteng.blogspot.co.id

Minggu, 12 Februari 2017

KONTAK KAMI



Selamat datang di wabsite resmi PAC GP ANSOR Genteng.

Kirim berita ,foto/vidio kegiatan  ke email kami:


ansorgenteng2017@gmail.com

  http://picasion.com/

Susunan Pengurus PAC GP ANSOR Genteng



PIMPINAN ANAK CABANG GERAKAN PEMUDA ANSOR
KECAMATAN GENTENG KABUPATEN BANYUWANGI
MASA KHIDMAT 2017 – 2020
KETUA :
Abd.Kadir,M.Pd.I
WAKIL KETUA
Bambang Irawan,S.Sos
Shihabudin Zuhri
Supono
H.Muhammad Husaini
M.Muslikhin,S.Pd.I

SEKRETARIS :
Abdul Rokhman,S.Pd
WAKIL SEKRETARIS
Muhamad Agusno
M.Fauzi
Imron Rosyidi
M.Shodik
Zainur Rosyidi

BENDAHARA :
Deni Agus Cahyono
WAKIL BENDAHARA
Amir Mahmud
Sigit cahyono
Muhammad Sutrisno

http://picasion.com/

Rabu, 08 Februari 2017

Kyai di banyuwangi Kompak Menolak Pendataan Ulama

BANYUWANGI – Sejumlah kyai dan ulama menolak jika di Banyuwangi ada pendataan terhadap kyai yang dilakukan aparat kepolisian. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi terang-terangan menolak jika ada pendataan kyai  di Bumi Blambangan.
Penolakan tersebut dilontarkan karena berpotensi menimbulkan salah paham hingga mengakibatkan trauma baru bagi masyarakat. Penolakan itu disampaikan oleh Ketua MUI Banyuwangi KH.Mohamad Yamin usai bersilaturahmi dengan Kapolres AKBP Agus Yulianto di Rupatama Mapolres Banyuwangi, kemarin.
“Pendataan kyai justru berpotensi menimbulkan salah paham. Janganlah mengadakan pendataan tersebut. selama ini komunikasi antara umara dan ulama sudah berjalan baik. Komunikasi para tokoh agama dengan forum pimpinan daerah (forpimda)  juga bagus. Kerukunan intra umat beragama serta antarumat beragama sudah baik,” tegas  KH.Mohamad Yamin dihubungi tadi malam.
Dikatakan KH.Mohamad Yamin, ketenteraman dan situasi kondusif di Banyuwangi selama ini sudah terjaga  dengan baik. Karena itu, pihaknya berharap isu-isu yang berkembang di Jakarta tidak dibawa ke daerah-daerah lain, terutama di Banyuwangi.
“Pertemuan tadi (kemarin) dalam rangka menyamakan persepsi. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah final,” ujarnya. Diungkapkan Yamin, dalam pertemuan kemarin Kapolres menjelaskan, pendataan terhadap ulama dan kyai sedianya akan dilakukan lantaran Kapolda Jatim saat ini baru menjabat. Karena itu, Kapolda ingin tahu nama-nama ulama yang ada di wilayah Jatim untuk memudahkan komunikasi.
“Tetapi, menurut kami, daripada menimbulkan salah paham. Lebih baik tidak usah (pendataan ulama). Sebab, pengalaman yang lalu, di zaman Bupati Purnomo Sidik ada pendataan semacam itu dan akhirnya memunculkan trauma dimasyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, pertemuan yang berlangsung di Rupatama Polres Banyuwangi kemarin membicarakan banyak hal. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi, KH. Muhamad Yamin; Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU),  KH. Masykur Ali; Rais Syuriah NU, KH. Hisyam Syafaat; Ketua Pimpinan Daerah Muham- madiyah (PDM), DR. Mukhlis Lahuddin, Msi; Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi H.Slamet; dan Kapolres  AKBP Agus Yulianto.
Efek dugaan penistaan terhadap KH. Makruf Amin dalam persidangan Basuki Tjahaya Purnama alais Ahok juga dibahas dalam  pertemuan tersebut. Persoalan ini memiliki dampak luar biasa di sejumlah daerah. Reaksi pun bermunculan terkait insiden yang terjadi di Jakarta tersebut.
Meredam efek panas dari gejolak tersebut, Polres Banyuwangi bersama sejumlah tokoh ormas seperti NU dan Muhammadiyah bertemu  dengan Kapolres di Rupatama Polres Banyuwangi kemarin. Pertemuan yang berlangsung 90  menit itu dibahas sejumlah masalah  yang dihadapi umat terkait kisruh politik di ibu kota tersebut.
Seperti diungkapkan oleh Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi DR. H. Mukhlis Lahuddin, M.Si kemarin.  Menurutnya, ada semacam rasa  waswas di hati umat Islam saat ini. Isu yang berkembang saat  ini memunculkan adanya rasa curiga-mencurigai.
Tidak mengherankan bila kemudian ada kekhawatiran insiden serupa seperti tahun 1998 dan 1999 akan  terulang. Dimana saat itu yang  terjadi persis seperti sekarang. “Saya waswas ada pendaftaran  kyai,” ujarnya. Hal senada diungkapkan oleh  Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali.
Pengasuh Ponpes Ibnu Sina Jalen, Genteng itu menjelaskan, insiden yang telah terjadi di ibu kota atas diri KH. Makruf Amin sebetulnya sudah membuat warga NU resah dan marah. Meski begitu,  lanjut KH. Masykur Ali, warga NU tetap  berkomitmen menjaga stabilitas dan keamanan negara.
Dia menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Dan perlu diingat dalam perjalanan negara ini, NU turut mewarnai dan mendesain pilar berdirinya negara. Karena itu, lanjut KH. Masykur Ali, untuk mendukung stabilitas dan keamanan negara tersebut, PCNU  meminta seluruh cabang dan ranting maupun pesantren untuk tetap dalam satu barisan dan komando.
Dalam kesempatan itu, KH. Masykur Ali juga menyinggung soal pendataan kyai yang dilakukan aparat kepolisian. “Menurut kami, pendataan kyai  dan juru dakwah tidak usah dilakukan,’’ pintanya. Kepala Kemenag Banyuwangi H.Slamet  menambahkan, apa yang terjadi  di Jakarta tidak akan terjadi di  Banyuwangi.
Keyakinan itu  didasari bahwa ulama dan rakyat  Banyuwangi bersama-sama  menjaga situasi Banyuwangi. Disisi lain, Kapolres Banyuwangi AKBP Agus Yulianto menyambut baik pertemuan ini. Silahturahmi ini merupakan bagian dalam upaya menjaga komunikasi dan silaturahmi  dengan tokoh agama di Banyuwangi.
“Setelah ini kami akan sowan ke kyai dan tokoh ulama secara  langsung,” tegasnya. (radar)

Jumat, 23 Desember 2016

Dwi Hartanto, Doktor Aerospace Engineering yang Dirayu Jadi WN Belanda

Dwi Hartanto bersama dengan B.J. Habibie di Den Haag
Pemerintah kembali memanggil para ilmuwan diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Selama sepekan mereka diminta menularkan ilmu untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Cerita mereka sangat inspiratif.
M. HILMI S.-JUNEKA S., Jakarta
DWI HARTANTO tak menyangka ketika suatu siang, saat dirinya asyik melakukan penelitian di laboratorium kampusnya di Belanda, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Melihat nomor di layar, dia tahu bahwa nomor itu berasal dari luar.
’’Si penelepon bilang, bapak ingin bertemu. Saya sempat bingung, siapa bapak yang dia maksud,’’ cerita Dwi ketika ditemui setelah pembukaan Visiting World Class Professor, forum pertemuan diaspora dari berbagai negara, di Jakarta, Senin (19/12/2016).
Sambil memendam rasa penasaran, Dwi mencari tahu siapa ’’bapak’’ yang ingin bertemu dirinya itu. Usut punya usut, ternyata orang yang menelepon tersebut adalah petugas protokoler mantan Presiden B.J. Habibie. Dan, yang dimaksud ’’bapak’’ itu tak lain adalah B.J. Habibie sendiri.
Pria asal Yogyakarta tersebut sempat berpikir ada apa tokoh sekaliber Habibie ingin menemui dirinya. Selang beberapa lama, pertemuan dua generasi antara Dwi Hartanto dan Habibie pun terlaksana awal Desember lalu. Pertemuan nonformal dan santai itu berlangsung di sebuah restoran di Den Haag, Belanda.
Tentu saja, putra pasangan Chamdani dan Astri itu sangat bangga bisa bertemu berdua dengan salah seorang tokoh besar negeri ini tersebut. Memang, itu bukan pertemuan pertama mereka. Dwi pernah bertemu dengan Habibie sebelumnya, tapi bersama banyak orang.
Selain berbincang tentang keilmuan, Habibie meminta Dwi bersedia membantu negara meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Dwi pun menyanggupi permintaan pakar pesawat terbang tersebut. Karena itu, dia bersedia pulang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan stakeholder pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga curhat soal kegetolan pemerintah Belanda menawari dirinya paspor Negeri Kincir Angin. Sejauh ini, doktor bidang aerospace engineering itu mampu menolak dengan halus.
’’Pak Habibie bilang, kalau pemerintah Belanda masih menawari lagi, saya disuruh melapor ke beliau. Nanti beliau yang menghadapi pemerintah Belanda,’’ kenang Dwi.
Habibie mewanti-wanti agar Dwi tetap keukeuh mempertahankan prinsip kewarganegaraannya. Jangan sampai mau pindah kewarganegaraan di Belanda. Perkara bekerja untuk perusahaan internasional atau bahkan membantu pemerintah Belanda, itu sah-sah saja.
’’Kamu jangan sampai mencabut jati diri dan kewarganegaraan Indonesia-mu,’’ pesan Habibie.
Wanti-wanti suami almarhumah Ainun Habibie itu menguatkan pesan yang disampaikan orang tua Dwi. Setiap pulang ke Jogja, misalnya saat Lebaran, orang tuanya selalu berpesan supaya Dwi tidak lupa asal muasalnya.
’’Memang, di Belanda hujan emas. Tetapi, siapa yang membantu negaramu?’’ kata Dwi menirukan wejangan orang tuanya.
Pria 28 tahun yang sebentar lagi bergelar profesor itu menyatakan, besarnya tawaran berpaspor Belanda itu muncul karena riset yang dilakukan sangat sensitif. Riset-riset Dwi bersama para guru besar dari Technische Universiteit (TU) Delft selama ini menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.
Salah satu riset sensitif yang dia garap adalah teknologi roket untuk militer dan misi luar angkasa. Dwi juga menggarap satelit untuk riset luar angkasa serta pertahanan dan keamanan (hankam).
Dia terlibat pula dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence.
’’Riset bidang itu kan sensitif sekali jika digarap orang dari negara lain,’’ kata ilmuwan muda yang masih betah membujang tersebut.
Kasarannya, potensi untuk menjual hasil riset ke pesaing usaha atau membocorkan pertahanan Belanda ke negara lain sangat memungkinkan. Karena itulah, Dwi berkali-kali ditawari untuk pindah kewarganegaraan Belanda.
Dari riset-riset yang dilakukan, Dwi telah mengantongi tiga paten di bidang spacecraft technology. Sayang, dia terikat kontrak untuk merahasiakan paten tersebut. Dia tidak bisa membeberkan tiga paten itu karena terkait dengan program strategis.
Dia mengaku cukup dilematis saat menolak tawaran pindah kewarganegaraan tersebut. Sebab, biaya kuliah S-2 dan S-3 Dwi di TU Delft dibiayai pemerintah Belanda. Dia tidak ingin dicap sebagai ilmuan yang tidak bisa berterima kasih kepada pihak yang membiayai kuliahnya.
Sarjana Tokyo Institute of Technology itu menegaskan, dirinya tidak memiliki tips khusus saat belajar sehingga mampu meraih gelar doktor dalam usia muda. Menurut dia, kunci utamanya adalah harus memiliki interest atau ketertarikan pada bidang yang digeluti. ’’Butuh lebih dari passion,’’ ungkapnya.
Dia mencontohkan, ketika menggarap roket pada 2015, dirinya hanya sempat tidur 2–3 jam. Waktunya habis untuk melakukan riset-riset di laboratorium. Apalagi, risetnya memerlukan perhatian khusus karena terkait dengan kemampuan high qualified.
’’Sama-sama berbasis teknologi. Tetapi, mendesain motor dengan mendesain pesawat kan beda,’’ katanya.
Bekal lain yang dimiliki Dwi adalah kemampuan di bidang matematika dan fisika. Saat duduk di bangku sekolah, bungsu dua bersaudara itu memang hobi astronomi. Kemampuan menguasai matematika dan fisika itulah yang mengantarkannya menjadi calon profesor di bidang aerospace engineering dalam usia yang terbilang masih muda.
Dwi mengejar gelar profesor melalui program professorship. Program tersebut rata-rata bisa ditempuh dalam 3–5 tahun. Dia memulai program itu pada 2015. Jika semua berjalan lancar, Dwi akan meraih gelar guru besar tersebut pada usia 31–33 tahun.(batampos)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by AnsorGenteng Online